Artikel Terbaru

Akibat Dosa Asal

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Akibat Dosa Asal
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comApa yang dimaksud dosa turunan? Apakah dosa besar dari orangtua kita akan menghalangi kehidupan anak-anaknya untuk meraih hidup yang bahagia?
Stevanus Bonar, Tangerang
Pertama, dalam ajaran Gereja Katolik tidak digunakan istilah dosa turunan, melainkan dosa asal. Kata “asal” merujuk kepada dosa pertama manusia sesudah Allah menciptakannya, yaitu manusia tidak mematuhi perintah Allah dan mendahulukan diri sendiri daripada Allah (bdk. KGK 397-398). Dosa pertama itu berakibat membawa malapetaka, merusak keselarasan dan diri manusia sendiri, serta melahirkan dosa-dosa lain yang membanjiri dunia (bdk. KGK 399-401). Keadaan berdosa ini mengena kepada semua manusia (Rm 5:19), dan membawa serta penderitaan, kecondongan kepada yang jahat, dengan kematian sebagai puncak. Keadaan berdosa inilah yang disebut sebagai dosa asal, dan diturunkan kepada seluruh umat manusia melalui kodrat manusia (bdk. KGK 402-404).
Kedua, agar dimengerti secara benar, perlu dicermati hal-hal yang diturunkan dari dosa asal itu. Meskipun mengena setiap manusia, perbuatan dosa pertama dan hukuman dosa tidak ditanggungkan kepada manusia lain sebagai “kesalahan pribadi”. Jadi, kata “dosa” dalam istilah dosa asal, dimengerti secara analog, yaitu sebagai keadaan dosa dan bukan sebagai perbuatan dosa. Yang diturunkan akibat-akibat dosa, yaitu kelemahan pikiran, kesengsaraan dan kekuasaan maut, serta kecondongan kepada dosa. Kecondongan kepada yang jahat ini dinamakan concupiscentia. Akibat-akibat dosa ini mengharuskan manusia berjuang secara rohani (KGK 405).
Ketiga, dalam pengertian tersebut itulah kita harus mengerti Kel 20:5, “Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” (bdk. Kel 34:6-7; Bil 14:17-18). Yang diwariskan di sini bukanlah dosa pribadi, tetapi keadaan berdosa atau akibat-akibat dosa. Dosa dan hukuman dosa adalah tanggungjawab masing-masing.
Hal ini ditegaskan para nabi. Kepada bangsa Israel yang dibuang ke Babel, Nabi Yehezkiel menjelaskan bahwa situasi malang mereka bukanlah warisan dosa leluhur, tetapi karena kesalahan mereka. Setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. “Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu, melainkan: setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu” (Yer 31:29-30; bdk. 18:20).
Yesus juga menolak gagasan bahwa dosa orangtua ditanggungkan kepada anaknya. Ajaran Yesus ini ditegaskan
ketika menjawab pertanyaan para murid tentang orang yang buta sejak lahir. “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh 9:3).
Keempat, meskipun setiap perbuatan dosa adalah tanggung jawab pribadi setiap orang yang memiliki kehendak bebas, namun tetap perlu dicermati adanya, dalam diri setiap orang, pewarisan kelemahan pikiran dan kecondongan kepada yang jahat (concupiscentia). Secara ilmiah, sudah diakui bahwa orangtua mewariskan kepada anaknya ciri-ciri perawakan fisik, kecenderungan kepada penyakit, dan kecondongan tertentu dalam karakter. Tetapi, dengan kehendak bebas dan dibantu lingkungan, anak-anak bisa menjaga dan menghindarkan diri dari penyakit dan kecondongan karakter yang dimiliki orangtuanya, sehingga menjadi sehat dan membentuk pribadi ideal. Jika dengan kehendak bebasnya, anak mengikuti kecondongan kepada yang jahat, maka dosa itu adalah tanggung jawab pribadinya. Aspek “pribadi” inilah yang seringkali diabaikan. Ketika orang melemparkan tanggung jawab atas keadaan buruk yang dialami dengan mengkambinghitamkan dosa leluhur sebagai penyebab kemalangan.
Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 32 Tanggal 9 Agustus 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*