Artikel Terbaru

Putraku Suka Pakaian Wanita

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Putraku Suka Pakaian Wanita
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comSaya Maria (44), sudah menikah dan dikaruniai tiga anak. Anak pertama dan kedua perempuan. Anak pertama sudah kuliah, yang kedua masih SMA. Sedangkan anak bungsu laki-laki, berumur 12 tahun. Ada kecemasan di hati saya dan suami soal pertumbuhan si bungsu. Ia sangat senang memakai pakaian kakak-kakaknya. Saat olahraga di sekolah, ia sering menyembunyikan pakaian teman-teman baik cewek maupun cowok, lalu dibawa pulang. Saya sering dipanggil pihak sekolah soal perilaku anak saya ini. Tiap kali ditanya,ia mengatakan tidak mencuri, tapi hanya meminjam sebentar barang-barang itu. Memang betul, barang-barang itu hanya dicoba lalu dikembalikan pada pemiliknya. Kami cemas jangan-jangan anak kami mengidap kleptomania. Bagaimana kami harus mengatasi kecenderungan negatifnya ini? Apa hal-hal konkret yang harus saya buat segera untuk mengubah sikapnya?
Maria, Jakarta
Kecemasan Ibu terhadap pertumbuhan ananda bisa dipahami. Ketertarikan anak laki-laki terhadap pakaian wanita dialami sebagian anak laki-laki usia balita dan beberapa tahun setelahnya. Fase itu dialami ketika mereka mulai menghayati peran seksualnya yang berbeda dengan teman sebaya yang berjenis kelamin lain (wanita).
Hal seksual di masa kanak-kanak ini masih bersifat laten (potensial) dan belum/ tidak identik dengan tindakan seksual, dan wilayah operasinya masih di tataran perasaan. Perasaan “beda” (yang kebanyakan tak disadari) menimbulkan keingintahuan. Keingintahuan ini mendorongnya melakukan konfirmasi (pembuktian). Ada sebagian anak laki-laki yang cukup dengan mengamati, menjalin relasi dalam pergaulan atau melihat gambar/foto penampilan wanita. Namun ada yang menempuh cara-cara nyata dan detail, misal dengan menyentuh, mengamati dan mencoba memakai/menggunakan benda-benda yang digunakan wanita (kosmetik, pakaian dalam, pakaian luar, sepatu, dsb) yang awalnya sebatas milik ibu, kakak atau anggota keluarga berkelamin perempuan.
Episode konfirmasi ini selesai rata-rata pada usia 6-7 tahun. Bila relatif tak ada kecenderungan penyimpangan, dan dengan pemantauan, pendampingan serta lingkungan yang kondusif; fase konfirmasi ini akan cepat terlampaui. Ada sebagian anak lakilaki yang cenderung bertahan dan mengalami kesenangan dalam fase ini, sasarannya meluas pada benda-benda yang digunakan wanita pada umumnya di luar keluarganya.
Kebiasaan ini menjadi kesenangan berkepanjangan sampai usia remaja, bahkan setelahnya. Hal ini terjadi entah karena ada kecenderungan penyimpangan, kurangnya pendampingan/pemantauan pertumbuhan yang memadai; ataupun karena komplikasi dari kedua kondisi itu. Dalam istilah klinis, kesenangan itu disebut transvestic fetihisme, yaitu suatu kecenderungan atau kondisi yang dialami laki-laki yang mengalami kesenangan dan gairah seksual dengan memakai pakaian perempuan.
Sebagian pelaku transvestic fetihisme yang berusia remaja dan dewasa ditemukan sering melakukan tindakan mengambil barang/ benda milik wanita tanpa izin atau mencuri. Bila barang yang diambil sebagian barang milik laki-laki, biasanya ini adalah taktik kamuflase untuk menyamarkan tindakannya.
Tindakan mengambil barang orang lain tanpa izin tak sama dengan tindakan kleptomanik. Kleptomania adalah keinginan yang tak bisa dibendung untuk mencuri sesuatu yang remeh (bolpoin, klip kertas, pernik-pernik, dsb). Gangguan ini biasanya dimulai pada masa remaja dan jarang terjadi pada anak-anak dan laki-laki. Dalam batas tertentu, kadang seorang transvestic fetihisme sekaligus menderita kleptomania, misal kesukaan mengambil pengikat rambut wanita.
Apakah ananda kleptomania? Berdasarkan uraian di atas, ananda bukan kleptomania. Hal sangat mendesak yang sebaiknya ibu lakukan adalah mengkonsultasikan pada pihak profesional (psikolog klinis). Dari konsultasi itu, Ibu akan secara bertahap mendapatkan pemahaman tentang inti persoalan, pun latarbelakang persoalan yang ananda alami; sehingga lebih jelas apa dan bagaimana langkah selanjutnya yang harus ditempuh untuk membantu pertumbuhan ananda ke arah yang konstruktif. Satu hal yang harus Ibu dan suami lakukan adalah kepedulian untuk tetap melakukan pendampingan dengan penuh kasih sayang. Hindari sikap “mengadili” karena dikatakan atau tidak, ananda sebenarnya juga tengah didera keprihatinan pada diri sendiri atas kebiasaan yang sering (tak terkendalikan) dilakukannya.
H.M.E. Widiyatmadi
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 39 Tanggal 27 September 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*