Artikel Terbaru

Suami Larang Istri Memakai Perhiasan

Sumber Foto: thebrunettediaries.com
Suami Larang Istri Memakai Perhiasan
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, Saya, Maria 40 tahun, sudah menikah selama 25 tahun. Saya punya dua anak; yang pertama semester tiga sebuah Universitas Swasta di Jakarta, sedangkan kedua baru SMA kelas dua. Akhir-akhir ini, suami sering memukul saya, bahkan di depan anak-anak. Alasan utamanya, karena sering memakai hiasan atau kosmetik bila hendak ke kantor. Ia hanya memperkenankan saya memaki cincin nikah, sedangkan perhiasan lainnya dilarang. Saya berapa kali memberi pengertian bahwa saya memakai ini tidak bermaksud untuk “macam-macam” di luar rumah. Tapi makian dan kekerasan fisik selalu jadi makanan sehari-hari saya. Saya bingung, karena dulunya suami tak seperti begini. Ia memberi kebebasan penuh pada saya.Bagaimana saya harus bersikap dan apa yang harus saya katakan agar suami percaya?
Maria, Jakarta
Ibu Maria terkasih, saya turut bersimpati dengan apa yang Ibu alami. Suami yang semula diharapkan berperan sebagai pelindung dan pengayom keluarga justru bertindak kekerasan terhadap istri. Kita sering mendengar istilah “dalam rumah tangga, bertengkar adalah hal yang biasa,” sebuah dinamika hidup. Dua pribadi unik dengan karakter, latar belakang keluarga, pendidikan dan pengalaman berbeda, dipersatukan dalam ikatan perkawinan hingga berbeda pendapat maupun berdebat adalah hal yang normal. Namun jika sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga, ini berarti ada masalah besar.
Menurut saya, kekerasan yang ibu alami disebabkan adanya konflik yang membuat stres. Misal, Ibu ingin tampil cantik, menarik, tapi suami lebih menginginkan Ibu tampil sederhana. Respon atas stres bisa menarik diri, diam, menyendiri, masa bodoh, atau menyerang/agresif. Pernahkah Ibu bertanya, mengapa suami tak suka kalau Ibu mengenakan perhiasan dan berdandan? Apakah alasannya logis? Apa reaksi Ibu setelah menerima tindakan kekerasan?
Pada dasarnya konflik terjadi karena komunikasi suami-istri tidak berjalan baik. Mungkin suami melakukan kekerasan karena tak mampu mengkomunikasikan pikiran, keinginannya dengan bahasa halus sehingga lebih mudah menggunakan tindakan fisik. Bisa juga Ibu kurang mampu berperan sebagai pendengar yang baik. Peran komunikasi dalam rumah tangga sesungguhnya bukan sekadar pertukaran informasi, tapi menyatakan perasaan, kegalauan, kesedihan, kejengkelan, keinginan maupun sikap.
Ada empat problem komunikasi yang biasanya terjadi dalam keluarga. Pertama, sulit berkomunikasi. Kedua, prasangka atau kecurigaan satu sama lain atau memikirkan hal buruk dari pasangannya. Ketiga, tidak mendengar atau memperhatikan, terampil berbicara tapi kurang terampil mendengarkan dan memperhatikan pasangan. Mendengar dengan baik dan menghargai pendapat pasangan akan mendukung Ibu untuk melihat masalah dari sisi lain. Keempat, mempertahankan pendapat, membenarkan pikiran dan perasaan, membela diri atau bahkan menuduh pasangannya.
Selain memperbaiki pola komunikasi, perlu strategi memecahkan konflik. Tiga strategi pemecahan konflik yang bisa dilakukan, yaitu pertama, akomodasi dari dua belah pihak, kesediaan saling memberi dan mengalah secara sukarela. Kedua, kompromi, berupaya mencari solusi memenuhi kebutuhan kita sekaligus kebutuhan pasangan. Ketiga, kolaborasi, yakni kesepakatan sebagai individu, perbedaan yang ada tentu punya arti penting. Dibutuhkan dialog hingga sadar bahwa masing-masing patut menerima hak untuk tetap berbeda sekaligus saling menghargai. Tidak menggunakan strategi kompetitif, saling memaksakan kehendak pribadi sehingga ada yang menang dan kalah atau strategi “diam”, mengabaikan saja dan seolah memandang tak ada masalah. Selain memperbaiki pola komunikasi, Ibu bisa memilih salah satu strategi itu sesuai kesepakatan dengan suami.
Bincang-bincang santai berdua sambil minum teh, pemilihan kata yang tidak memojokkan/menuduh atau saling menyalahkan, intonasi rendah, dengan humor, mau mendengarkan dan tidak menginterupsi serta menggunakan bahasa tubuh yang tepat, merupakan cara alternatif memperbaiki komunikasi dengan pasangan. Bila KDRT tetap berlanjut dan makin parah, dimungkinkan minta bantuan pihak ketiga atau melapor ke pihak berwajib. Demikian Ibu, semoga bermanfaat.
Praharesti Eryani
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 38 Tanggal 20 September 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*