Artikel Terbaru

Malu Kenalkan Istri ke Kantor

Ilustrasi: Dok. HIDUP
Malu Kenalkan Istri ke Kantor
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang baik, saya Johan 28 tahun. Saya mempunyai seorang istri lebih tua setahun dari saya. Kami telah menikah selama setahun. Saya bekerja di bidang perhotelan. Tentu sangat dibutuhkan penampilan dan cara bergaul dalam pekerjaan ini. Sejak bekerja, saya belum pernah mengenalkan istri saya kepada teman-teman kantor. Teman-teman kantor sering membawa istri bahkan anak mereka ke pertemuan bersama di kantor. Setiap ditanya teman-teman, saya selalu mengatakan istri saya sibuk. Padahal alasan utamanya adalah malu memperkenalkan istri karena penampilannya tidak seperti istri-istri yang lain. Juga umurnya lebih tua dari saya. Untuk mengatasi keresahan saya ini, saya mohon bimbingan dan penjelasan Romo. Bagaimana saya harus bersikap, dan apa konsekuensinya jika saya terus membohongi teman-teman dan istri saya.
Terima kasih.
Johan, Jakarta
Johan yang terkasih,
Sebelum Anda menikah dengan istri Anda sekarang ini, apakah Anda juga menemui kesulitan dan bermasalah dengan istri Anda dalam hal penampilan? Apakah Anda dulu juga mempertimbangkan hal ini sebelum memilih istri Anda sebagai pasangan? Secara singkat, saya ingin menyimpulkan bahwa masalah Anda adalah soal fisik yang tidak mudah diubah. Persoalan fisik sangat berdekatan dengan cara Anda sebagai pasangan berbicara dengan isteri Anda.
Pernikahan bukan pertama soal fisik, itu pasti. Karena jika fisik yang mendapat fokus perhatian, maka cinta pun akan semakin berkurang dari waktu ke waktu. Fisik setiap orang akan semakin mengalami penurunan, baik dalam penampilan maupun kualitas kesehatannya. Bukan hanya pasangan, tetapi kita sendiri pun akan mengalaminya. Ini suatu hal yang alamiah terjadi pada siapa saja.
Mengapa malu? Rasa malu muncul dari ketidaksiapan seseorang untuk menerima kenyataan yang menurut pikiran pribadi tidak layak diterima atau ditampilkan. Jadi, menurut saya, hal yang penting untuk Anda renungkan adalah mengapa Anda merasa malu? Mengapa Anda belum dapat menerima keberadaan isteri Anda di depan publik? Menurut saya hal ini akan berlaku juga ketika Anda di hadapan orang lain selain teman kantor. Jadi maksud saya adalah Anda dan istri perlu bicara mengenai hal yang secara mendasar terjadi ini.
Jika Anda merasa bahwa isteri Anda memalukan, apa masalahnya? Jika masalahnya adalah fisik, maka seperti yang saya sampaikan di atas, hal itu tidak dapat diubah. Lain halnya jika soalnya adalah penampilan. Anda perlu bicara kepada istri agar mengubah penampilan, cara berpakaian, dan kerapihannya. Jika masalahnya adalah soal pengetahuan dan cara bicara, hal ini dapat ditanggulangi dengan mengurangi pembicaraan yang menyangkut kompetensi dan pengetahuan kepada istri Anda.
Masih banyak hal dapat ditolerir, karena memang istri tidak perlu kompeten mengetahui semua hal berkaitan dengan bisnis atau “nyambung” dengan teman-teman Anda. Lebih penting adalah jika ia dapat “membawa diri” dan masuk dalam perjumpaan yang setara dengan teman-teman.
Di atas semua itu, andalah yang akan membuat apakah istri Anda merasa dihormati atau merasa diabaikan. Cinta kasih Anda sebagai suami ditantang dalam kasus ini. Kebanggaan itu lahir dari cinta kasih pasangan. Penghormatan Anda sebagai suami kepada istri menentukan apakah istri Anda merasa berharga atau tidak. Berhentilah membandingkan istri dengan wanita lain, meskipun itu Anda impikan.
Kebohongan pada akhirnya akan diketahui oleh orang lain jika Anda melakukannya berulang-ulang. Mintalah nasihat dari teman dekat Anda di kantor mengenai istri Anda, agar mereka maklum. Penghargaan Anda kepada istri akan mengalahkan semua suara miring atau kelemahan isteri Anda.
“Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Efesus 5:25). Perlakukan istri dengan penuh hormat, sebelum menasihati penampilannya. Pakailah bahasa yang sopan, tetapi meneguhkan agar ia tetap merasa dihargai. Semoga berhasil.
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 37 Tanggal 13 September 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*