Artikel Terbaru

Orangtua Cemas Anak Pindah Gereja

[NN]
Orangtua Cemas Anak Pindah Gereja
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin
Romo, saya Nora Wijaya, seorang single mother. Saya memiliki seorang putri berusia 22 tahun. Ia berpacaran dengan seorang pemuda protestan. Sejauh yang saya amati, pemuda itu baik dan kehidupan rohaninya juga baik. Mereka serius menjalin hubungan dan saya juga menyetujui. Meski begitu, ada satu hal yang mengganjal hati saya. Saya ingin mereka menikah secara Katolik dalam pernikahan sakramen.
 
Tapi demi menghormati keduanya, saya belum berani untuk mengatakannya. Romo, bagaimana saya harus menjelaskan ini kepada mereka?Bahwa saya ingin mereka menikah secara Katolik. Apa saja yang dapat menguatkan pendapat saya mengenai pernikahan Katolik kepada mereka?
Nora, Jakarta
Ibu Nora yang sedang bingung, saya kagum dengan iman ibu yang tangguh pada Gereja Katolik. Kesungguhan ibu, meskipun sebagai ibu tunggal, terbukti dalam hal kerinduan untuk mengajarkan iman yang teguh pada anak-anak. Akan tetapi, memang dalam kenyataan, anak-anak dapat mencintai orang yang belum tentu sesuai dengan harapan kita dan harapan Gereja, yaitu memilih pasangan dari agama atau Gereja lain. Demikianlah cinta datang kadang di tempat yang tidak terduga.
Meskipun cinta tidak terduga dan orang dapat jatuh cinta dimana saja, tetapi soal peneguhan pernikahan harus dibedakan. Ini adalah persoalan legalisasi-institusional yang dapat diusahakan tanpa mengganggu cinta. Gereja sangat mengharapkan setiap umatnya menikah secara Katolik, agar tidak bermasalah dengan hidup berimannya kelak. Janganlah demi cinta iman dikorbankan.
Maka untuk menjawab persoalan ini, singkatnya saya menyampaikan tujuan pertama dari pernikahan Gerejani, yaitu kebahagiaan kedua pihak dalam pernikahan sakramental. Ini adalah syarat minimal agar seseorang tetap diakui sebagai umat di Gereja Katolik. Pernikahan di luar Gereja akan menyebabkan seorang Katolik terekskomunikasi dari komunitas Gerejani dan tidak dapat menerima komuni dan sakramen lain, kecuali ia bertobat, menikah di dalam Gereja dan menerima sakramen tobat.
Mengapa diharuskan menikah di dalam Gereja Katolik? Hal ini terutama karena sikap Gereja yang dapat menerima, meskipun berat, pernikahan beda Gereja dan pernikahan beda agama. Pernikahan yang diakui ini mengandung konsekuensi dari Gereja untuk menerima agama lain dalam perkawinan di dalam Gereja tanpa memaksa untuk menjadi anggota Gereja Katolik. Singkatnya, tidak ada paksaan untuk menjadi Katolik jika menikah di dalam Gereja Katolik.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya institusi agama yang adil, yang tidak memaksa orang dari agama lain masuk menjadi anggota demi perkawinan. Ibu dapat menjelaskan hal ini sebagai keterangan yang pokok dan sederhana untuk dijelaskan. Jika anak ibu menikah di dalam tatacara agama lain, otomatis ia pindah agama, sehingga ia akan “dikeluarkan” dari Gereja Katolik. Bukankah ini tidak adil bagi pihak Katolik?
Pernikahan dalam Gereja Katolik sangat menghargai nilai persatuan dalam janji yang sakral dan diucapkan sekali seumur hidup sampai maut memisahkan. Pernikahan mereka adalah sakramen, karena keduanya adalah orang-orang yang dibaptis. Bukankah setiap pasangan yang baik akan lebih menerima jika perkawinannya diberi martabat suci atau sakramen? Perkawinan bukan hanya janji manusiawi, melainkan janji kepada Tuhan, dan itu paling jelas ada dalam tata cara Gereja Katolik.
Penjelasan ini saya kira akan mendapat perhatian dan penerimaan yang lebih baik dari kedua pihak yang akan menikah. Saya percaya, jika keduanya mempunyai maksud baik, maka penjelasan Ibu akan menambah pemahaman dan kegembiraan mereka menyambut pernikahan yang akan saling mereka terimakan.
Akhirnya, tetapkan hati ibu untuk terus meneguhkan anak-anak agar memperhatikan dan menjaga imannya, tanpa memaksa pihak lain untuk masuk agama Katolik. Jika ibu tidak goyah, berarti ibu mengajarkan hal baik, bukan hanya demi pernikahan, melainkan juga berlatih untuk teguh dalam iman dan membela kebenaran dari keyakinan Katolik.Semoga berhasil.
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 35 Tanggal 30 Agustus 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*