Artikel Terbaru

Saatnya Pastoral Antar Jemput

Umat Lingkungan St Yohanes Leonardi menaiki angkot yang disiapkan Paroki Taman Galaxi.
[HIDUP/Marchella A.Vieba]
Saatnya Pastoral Antar Jemput
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comTak ada lagi alasan, karena tinggal jauh dari gereja, maka umat malas ikut Misa. Paroki-paroki menyediakan transportasi antar jemput. Beberapa Wilayah pun sudah mandiri.

Ojek… Ojek…! Teriakan itu terdengar di pangkalan ojek Bambu, Cilangkap, Jakarta Timur. Tawaran ngojek ditujukan kepada umat Katolik yang baru saja keluar dari halaman Gereja St Yohanes Maria Vianney Cilangkap. Beberapa umat tak canggung langsung menaiki motor tukang ojek, lalu pergi. Tak sampai setengah jam, pangkalan ojek yang semula ramai beralih sepi.

Seorang pengemudi ojek di pangkalan itu, Ahmad Nurjani berkisah bahwa ia sudah enam tahun menafkahi keluarga dari mengojek. Kebanyakan pelanggangnya adalah umat Katolik. “Saya tidak mau beralih ke ojek online karena saya masih punya tanggung jawab terhadap para pelanggan,” ujar pria berusia 43 tahun ini.

Dulu, pangkalan ini dipadati tukang ojek yang berasal dari daerah Setu dan Bambu Apus. Sedikitnya 18 orang setiap hari yang nongkrong di situ. Tapi, sejak ada jasa antar jemput berbasis online, pangkalan pun menjadi sepi.

Ojek Paroki
Para tukang ojek yang mangkal di depan Gereja St Yohanes Maria Vianney Cilangkap ini biasanya mengantar umat Cilangkap yang lokasi rumahnya jauh dari gereja. Kepala Paroki Cilangkap Romo T. A. Murdjanto Rochadi Widagdo sadar betul bahwa ada umatnya yang kesulitan akses transportasi ke gereja.

Sebagai gembala, Romo Rochadi mencoba mendekatkan umat yang jauh di Parokinya. Dari situ diketahui bahwa kendala utama umat jarang ke gereja karena tidak ada transportasi dan biaya. Meskipun ini masalah klasik, Romo Rochadi berencana akan membuat sistem pelayanan terpadu. Wujud nyata pelayanan ini adalah pengadaan Ojek Paroki. “Ojek Paroki difokuskan bagi umat Katolik yang rumahnya jauh, dengan visi dari umat untuk umat,” ujar Romo Rochadi. Meskipun belum ada modul yang pasti, tapi siapapun bisa menjadi tukang ojek. “Kami akan berusaha memberi bayaran sesuai penggunaan jasa mereka,” imbuh Romo Rochadi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*