Artikel Terbaru

Romo Thomas Ulun Ismoyo: Merawat Umat yang Jauh

Pastor Thomas Ulun Ismoyo.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Romo Thomas Ulun Ismoyo: Merawat Umat yang Jauh
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comSetiap Minggu, umat menempuh puluhan kilometer untuk datang ke gereja mengikuti Misa. Jarak tak lagi jadi halangan untuk merayakan iman.

Dalam persiapan perayaan 210 tahun Gereja Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Paroki-paroki KAJ sedang kebut-kebutan membuat profil paroki. Di dalamnya terangkum sejarah, dinamika kehidupan, dan batas-batas Paroki. Hal ini dirasa perlu untuk melihat kembali kemampuan sebuah Paroki dalam melaksanakan tata pelayanan terhadap umat. Tidak sedikit ditemukan bahwa untuk mengikuti Misa di mana dia terdaftar secara administratif, umat harus berjibaku dengan jarak tempuh yang mencapai puluhan kilometer. Bagaimana cara berpastoral agar meringankan kuk umat tersebut? Berikut refleksi Direktur Pusat Pastoral Wisma Samadi Klender Romo Thomas Ulun Ismoyo:

Apa pendapat Romo tentang tekad umat datang ke gereja meski tinggal jauh?

Kita harus bersyukur karena umat masih mau datang ke gereja setiap Minggu. Ini merupakan hal yang amat baik, terlepas dari di gereja mana umat mengikuti Misa. Meskipun perlu diketahui bahwa Gereja bukan hanya ditempatkan sebagai sebuah komunitas iman. Lingkungan dalam sebuah Paroki mesti dikelola sebagai sebuah organisasi. Maka ia membutuhkan yang namanya manajemen alias pengelolaan. Dalam bahasa Gereja disebut tata pelayanan. Dalam tata pelayana terangkum perhatian pihak Gereja dan administrasi Gereja. Maka, dalam hal administrasi, tidak bisa tidak umat yang tempat tinggalnya sangat jauh sekalipun tetap ikut ke Paroki induknya.

Bagaimana cara berpastoral ketika dihadapkan pada kondisi tersebut?

Ini merupakan sebuah tantangan dalam karya pastoral. Karena Gereja harus mengalokasikan waktu untuk melayani umat, termasuk umat yang berada di lokasi yang amat jauh. Sementara itu, kondisi tersebut bisa menjadi peluang untuk hadirnya pengembangan komunitas basis. Berdasarkan data KAJ tahun 2012, umat KAJ tersebar di sekitar 3400 Lingkungan, dan pastor yang berkarya di KAJ ada sekitar 200 pastor.

Jika dihitung, rata-rata satu pastor menggembalakan sekitar 3000 umat. Artinya perbandingan pastor dengan umat tidak seimbang. Semoga dalam tata pelayanan tetap mempertahankan kunjungan personal kepada umat yang jauh sehingga mereka tidak hilang. Saya yakin para romo sudah melakukan hal ini.

Siapa saja yang bisa dilibatkan untuk melayani umat yang jauh dari pusat Paroki?

Pelayanan dapat dimaksimalkan dengan bersinergi antara pelayanan teritorial dan kategorial. Kelompok kategorial pasti akan merasa senang jika dilibatkan untuk menyapa umat yang berada di Lingkungan paling jauh dari pusat Paroki. Pelayanan kategorial bisa dalam bentuk doa bersama, Karismatik, Taize, devosi, dan Legio Maria. Sehingga tidak hanya pastor saja yang berkunjung. Ini bukan pelayanan satu pihak, yaitu pastor dan dewan Paroki saja, tetapi menjadi pelayanan semua umat Katolik. Umat yang jauh jangan disendirikan karena mereka merupakan bagian dari kita.

Bagaimana corak pelayanan pastoral yang pas untuk KAJ?

Corak pastoral antara Paroki di pusat kota tidak bisa disama-ratakan dengan Paroki yang ada di pinggir atau Paroki perbatasan. Baiknya, Paroki mengikuti gerak langkah Arah Dasar KAJ karena di dalamnya merangkum Gereja bukan hanya menjadi sebuah persekutuan, namun juga sebuah gerakan bersama. Sehingga umat merasakan bahwa mereka merupakan bagian dari Gereja di mana mereka tinggal. Dalam khotbah pada 15 September 2016, Paus Fransiskus mengatakan, Gereja tanpa kehangatan hanya akan menjadi sebuah organisasi yang kaku. Maksudnya, agar Gereja tidak semata-mata menjadi sebuah organisasi saja tetapi sungguh memberikan kehangatan bagi jiwa-jiwa.

Apa harapan Romo ke depan?

Saya harap setiap Paroki mesti memiliki data yang jelas tentang umatnya. Dari data yang ada buatlah sebuah demografi mengenai kondisi teritorial dan kategorial dari pelayanan Paroki. Karena, dari sebuah data demografi ini kita bisa mengetahui kondisi riil lingkungan sebuah paroki sehingga paroki bisa menentukan tata pelayanan yang tepat.

Christophorus Marimin

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 1 Tanggal 1 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*