Artikel Terbaru

Mewujudkan Kerajaan Damai

Mewujudkan Kerajaan Damai
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMengapa Gereja merayakan Hari Perdamaian Dunia tepat pada awal tahun baru, yang sudah dirayakan sebagai Hari Raya Maria Bunda Allah?

Yulia Nunung Larasati, Surabaya

Pertama, sejak 1967 Gereja memang merayakan 1 Januari sebagai Hari Perdamaian Dunia. Pemilihan hari pertama dari tahun baru ini mempunyai tujuan untuk mengingatkan kita bahwa Yesus yang baru dilahirkan itu adalah Pangeran Damai (Yes 9:6). Awal tahun ini juga selalu berada pada masa oktaf Natal yang dulu dirayakan sebagai hari penyunatan dan pemberian nama pada Kanak-kanak Yesus. Penyunatan itu mempunyai makna rohani, yaitu seseorang dipersembahkan kepada Allah dan menjadi milik Allah. Pemberian nama Yesus juga mempunyai makna penegasan misi-Nya sebagai Penyelamat Dunia, karena Yesus berarti Penyelamat.

Jadi, merayakan 1 Januari sebagai Hari Perdamaian Dunia berarti juga merayakan kedatangan Sang Pangeran Damai yang misi-Nya ialah untuk menyelamatkan dunia melalui jalan damai. Karena 1 Januari juga dirayakan sebagai Hari Raya Maria Bunda Allah, maka kita bisa mengawali setiap tahun dengan misi damai yang dibawa oleh kelahiran Yesus dan kita bisa meminta kepada Tuhan anugerah perdamaian melalui doa-doa Maria Bunda Allah. Menurut kebiasaan, pada hari ini Paus menyampaikan pesannya untuk perdamaian dunia.

Kedua, penempatan hari Perdamaian Dunia pada awal tahun ini juga menyiratkan harapan bahwa tahun yang baru itu akan dipenuhi dengan damai. Damai yang dimohonkan bukanlah damai yang diberikan oleh dunia melainkan damai yang berasal dari Allah. Memohon kepada Allah juga menyiratkan kewajiban Gereja sendiri untuk mengusahakan perdamaian pada tingkat manusiawi.

Konflik yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa usaha untuk membangun perdamaian dunia pada saat ini harus melibatkan para pengikut semua agama yang ada. Seringkali konflik terjadi karena perbedaan ajaran agama atau bisa juga dibuat seolah-olah merupakan gesekan antaragama. Maka, penganut setiap agama perlu bertindak secara aktif dan bersama-sama penganut agama lain mengusahakan kerukunan hidup antaragama. Usaha menciptakan kerukunan hidup antaragama ini dijalankan baik pada tingkat para pemuka agama maupun pada akar rumput.

Ketiga, St Yohanes Paulus II menyatakan: “Agama mempunyai peran menentukan dalam menggalakkan sikap-sikap perdamaian dan dalam memperkuat syarat-syarat perdamaian.” Demikian pula “agama menjalankan perannya ini secara semakin efektif jika agama memusatkan perhatian pada apa yang seharusnya dilakukan agama, yaitu perhatian kepada Allah, menggalakkan persaudaraan semesta dan menyebarluaskan sebuah budaya solidaritas manusiawi (Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia, 1 Januari 2003, no. 9). Maka semua agama perlu bekerja sama membangun perdamaian di atas empat pilar, yaitu “kebenaran, keadilan, kasih dan kebebasan” (no. 3).

Keempat, merayakan awal tahun baru sebagai Hari Perdamaian Dunia berarti mau meneguhkan iman kita bahwa Allah Putra sungguh menjelma menjadi manusia. Ia menyatukan diri dengan seluruh umat manusia sebagai “Pangeran Damai” yang mulai meluaskan Kerajaan Damai-Nya di dunia ini. Merayakan 1 Januari sebagai Hari Perdamaian Dunia juga berarti ikut serta meluaskan dan mewujudkan Kerajaan Damai. Di mana damai ini tak lain berasal dari Sang Penyelamat yang lahir di tengah-tengah kita. Ini berarti bahwa misi Yesus Sang Bayi di Betlehem itu akan menjadi misi Gereja sepanjang tahun. Dengan bantuan doa dan kasih keibuan Maria, Bunda Allah, kita akan secara aktif dan proaktif mewujudkan misi Kerajaan Damai dari Sang Imanuel.

Maka merayakan Natal tidak membuat kita menjadi Gereja yang introver dan autis. Tetapi, Gereja harus terarah ke luar untuk mengusahakan perdamaian di sekitar kita dengan bekerja sama dengan para penganut agama-agama lain. Damai Natal harus membawa sukacita yang menarik untuk semua orang lain.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 1 Tanggal 1 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*