Artikel Terbaru

Mengelola Keuangan Keluarga

Mengelola Keuangan Keluarga
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang baik, saya menikah secara Katolik 12 tahun yang lalu. Saat ini, saya dan istri bekerja. Sejak kami hidup bersama sampai sekarang, biaya kebutuhan dan pengeluaran keluarga saya tanggung, dan sebagian didukung dari penghasilan istri.
 
Belakangan ini, saya mulai resah dengan sikap istri saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa penghasilannya merupakan haknya sendiri. Dengan demikian, saya sebagai suami tidak berhak atas penghasilannya. Untuk mengatasi keresahan saya ini, saya memohon bimbingan dan penjelasan para Pengasuh, tentang cara mengatur keuangan yang baik apabila suami istri sama-sama bekerja. Terima kasih.
Subrata, Tangerang Selatan
Saudara Subrata yang terkasih, hidup berkeluarga tidak selamanya berjalan lancar, bahkan semua hal yang diimpikan sebelum menikah terkadang tidak terwujud. Masalah silih berganti. Namun demikian, tidak ada permasalahan yang tak dapat diatasi. Tentunya disamping berdoa, haruslah disertai dengan usaha untuk menyelesaikannya. Jangan lupa juga bahwa cinta kasih, perhatian, dan saling mendengarkan merupakan nilai-nilai yang harus dipegang dalam menyelesaikan permasalahan keluarga.
Selama 12 tahun, rumah tangga Anda berjalan dengan baik karena Anda saling mendukung. Dalam kurun waktu itu juga, setiap permasalahan tampaknya bisa Anda atasi berdua sehingga masalah pengaturan keuangan berjalan dengan baik. Namun, belakang ini Anda mulai mengeluh karena ada perubahan sikap pasangan Anda, yakni istri Anda tidak bersedia lagi untuk berbagi dalam masalah keuangan.
Dari data yang Anda ungkapan, sepertinya ada problem komunikasi antara Anda dengan istri. Kemungkinan besar tidak ada lagi waktu dan kesempatan untuk membicarakan masalah pengaturan keuangan dalam keluarga. Di samping itu, ada juga hal yang janggal. Di satu sisi Anda menjalankan tanggung jawab dengan membiayai seluruh kebutuhan keluarga, namun di sisi lain istri tidak menghargai upaya dan jerih payah Anda. Malahan istri mengklaim bahwa penghasilannya merupakan haknya sendiri.
Pengeluaran dan kebutuhan keluarga Anda selama 12 tahun yang lalu dan sekarang tentunya sangat berbeda. Karena sudah banyak perubahan dalam keluarga, kebutuhan dan pengeluaran tentunya bertambah dan makin meningkat. Inisiatif istri untuk mengatur keuangannya sendiri mungkin disebabkan karena melihat kesibukan Anda dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Tetapi, mungkin juga istri merasa kasihan karena Anda telah disibukkan oleh pekerjaan dan masih dibebani oleh urusan kebutuhan keluarga.
Ada kemungkinan terjadi kesalahpahaman di antara Anda berdua dalam mengatur keuangan. Dalam mengutarakan maksudnya, mungkin istri salah ucap atau Anda sendiri salah menangkap, bahwa penghasilan suami merupakan hak istri atau suami tidak mempunyai hak. Anda sendiri tampaknya merasa takut dan khawatir apabila kebutuhan keluarga yang selama ini Anda pegang beralih pada istri. Mungkin Anda merasa kurang percaya dengan kemampuan istri Anda dalam mengerjakan apa yang sudah Anda lakukan, sehingga Anda tetap mempertahankan terus peran itu.
Dalam hidup kristiani tidak ada peraturan bahwa suami atau istri yang bekerja berhak atas semua penghasilan yang didapat. Justru kita harus hati-hati dengan masalah keuangan, karena masalah keuangan dapat menjadi sumber petaka kalau kita tidak bisa mengelolanya dengan baik. Oleh karena itu, memang sangat baik bila kebutuhan dan keuangan keluarga dikelola berdua antara suami-istri. Di samping itu, suami-istri mesti saling terbuka dan membuat perencanaan bersama sehingga bisa saling mengontrol dan mendukung.
Namun demikian, tidak ada salahnya bila istri dipercaya untuk mengelola keuangan. Bila ternyata istri mampu dan lebih bijaksana dalam mengelola keuangan, sebaiknya ia diberi kepercayaan. Anda tidak perlu merasa takut dan khawatir terhadap istri Anda. Anda dan istri harus saling percaya dalam mengelola keuangan.
Demikian masukan yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat untuk menyelesaikan masalah yang sedang Anda hadapi. Tuhan memberkati.
Haryo Goeritno
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 18 Tanggal 3 Mei 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*