Artikel Terbaru

Johannes Parlindungan Purba: Wakil Rakyat Tak Libur

Johannes Parlindungan Purba.
[HIDUP/Edward Wirawan]
Johannes Parlindungan Purba: Wakil Rakyat Tak Libur
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPolitik bagi Parlin adalah panggilan kemanusiaan yang membutuhkan tanggung jawab. Konsekuensi logisnya, sebagai wakil rakyat tak ada hari libur.

Tak ada raut kelelahan di wajah Parlin. Padahal sepanjang hari, Parlin mengikuti tiga rapat. Dua rapat Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan satu rapat paguyuban untuk acara Natal Parlemen. “Ini baru selesai rapat tentang danau,” katanya seraya melepas jas hitamnya, lalu duduk.

Di Indonesia, kata Parlin, ada lebih dari 800 danau yang bisa menjadi sumber daya ekonomi, namun justru dalam kondisi memprihatinkan. Pemerintah, lanjutnya, memang sudah menetapkan program kerja namun kurang koordinasi antara pihak terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Lingkungan Hidup. “Tidak ada leading sektornya. Jadi, saya usulkan kepada pemerintah supaya masalah danau ini segera dibahas dalam rapat kabinet terbatas.”

Johannes Parlindungan Purba, tak hanya sibuk sebagai Ketua Komite II DPD RI, ia juga “menggembalakan” beberapa organisasi dan komunitas. Menjalani semua itu, Parlin memiliki prinsip yang menggelitik. “Setiap hari adalah hari kerja dan juga hari libur.” Prinsip itu, jelas Parlin, berarti pekerjaan apapun mesti dijalani sebagai tanggung jawab bukan beban. “Kan tidak mungkin ketika ada rakyat mengadu, saya jawab: ‘Wah, maaf saya lagi libur nih’,” ujarnya.

Panggilan Kemanusiaan
Parlin saat ini menjabat sebagai Ketua Komite II DPD yang lingkup tugasnya berkisar pada Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Ekonomi lainnya. Komite II bekerjasama dengan banyak pihak, seperti kementerian dan Dinas PU. Karena itu, Parlin selalu membangun komunikasi dengan pemerintah. “Jika masalah jalan, saya telepon dirjen, mengapa ini jalan rusak. Itu bagian dari tiga fungsi DPD, yaitu fungsi legislasi, budgeting, dan pengawasan.”

Bicara danau, katanya, bukan hanya bicara air, tetapi juga terkait ketahanan pangan, pariwisata, dan terutama persoalan kemanusiaan. Parlin mengambil contoh Danau Limboto di Gorontalo. Di sekitar danau hidup sekitar 200 ribu penduduk. “Kalau itu tidak ditangani dengan baik, maka ada persoalan kemanusiaan bagi penduduk sebanyak itu. Belum lagi kita bicara Danau Toba kan?” jelasnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*