Artikel Terbaru

Perkampungan Sosial Pingit (PSP): Dari Pingit Terbit Cita Rasa Kemanusiaan

Suasana belajar bersama anak-anak dampingan PSP.
[HIDUP/Benny Wetty SJ]

HIDUPKATOLIK.comDi daerah Pingit, Yogyakarta berdiri sebuah rumah pelayanan bagi mereka yang miskin dan tersingkir. Banyak orang muda terlibat di sana untuk belajar berbagi dan melayani sesama.

Tidur Frater Kieser kerap terganggu. Tiap malam, di emperan kamarnya, berbaring sebuah keluarga tunawisma. Tapi itu tak seberapa dibanding gangguan di hatinya. Ia memilih meninggalkan tidur nyamannya untuk bertanya dalam hati, “Apa yang dapat saya lakukan untuk mereka?”

Keluarga yang tak punya rumah itu adalah gambar kecil mengenai masalah sosial yang terjadi di kota Yogyakarta sekitar 1965. Wajah kemiskinan kota Yogyakarta nampak lewat banyaknya tunawisma. Kaum miskin ini datang dari sekitar Yogyakarta. Kemiskinan di desa memaksa mereka mengais rezeki ke kota. “Pada waktu itu, setiap hari, ada empat hingga lima keluarga yang tidur di halaman Gereja St Antonius Kotabaru, dekat Kolese St Ignasius (Kolsani) Yogyakarta, tempat para frater dan romo Jesuit tinggal. Biasanya, keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak,” kenang Romo Bernhard Kieser SJ.

Frater Kieser kemudian menceritakan persoalan sosial itu lewat Kedaulatan Rakyat. Apa yang ia tulis menggerakkan hati seorang umat bernama Soebarjo untuk menghibahkan sebidang tanah di tepi Sungai Winongo. Di atas tanah itu dibangun rumah penampungan untuk para tunawisma. Hingga saat ini, rumah tersebut dikenal dengan sebutan Perkampungan Sosial Pingit (PSP) dan menjadi pusat pelayanan sosial para frater Jesuit. Sebelumnya, PSP bernama YSS karena mengikuti nama yayasannya, Yayasan Sosial Soegijapranata. Sekarang, PSP berada di bawah Yayasan Sosial Pengabdian Masyarakat Realino.

Kian Berkembang
Sejak 1966, Komunitas PSP mendampingi keluarga-keluarga tunawisma. Dalam pendampingan, warga diajak untuk hidup bersih, bekerja, menabung, dan terlibat dalam masyarakat. Harapannya, setelah dua tahun pendampingan, mereka bisa kembali ke masyarakat dengan memiliki rumah kontrakan atau rumah pribadi.

Kalau pada awal berdiri, PSP hendak menjawab persoalan tunawisma, sekarang PSP lebih menjawab persoalan pendidikan anak dari keluarga kurang mampu dan kesejahteraan keluarga. Karena itu, PSP memiliki tiga divisi, yaitu Divisi Pendidikan Anak, Pendampingan Keluarga serta Humas-Pengembangan Relawan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*