Artikel Terbaru

Mama Jatuh Cinta Lagi

Mama Jatuh Cinta Lagi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang terhormat, orangtua saya pisah rumah. Saya hanya tinggal berdua dengan mama. Setahun belakangan ini saya tahu mama punya hubungan spesial dengan seorang pria. Mereka sering pergi bareng, bahkan weekend beberapa kali mama tak pulang ke rumah. Mama dengan pria itu juga mengumbar kata tak elok di media sosial. Bahkan pernah tanpa sengaja, saya melihat isi percakapan mereka dengan bahasa yang amat vulgar. Saya jadi malu. Apa yang bisa saya lakukan?

Anastasia Caroline, Makassar

Caroline, saya memahami perasaanmu melihat perilaku mama. Mama bak remaja yang lagi jatuh cinta sehingga sikap dan tutur katanya kurang etis, mengingat usia dan statusnya sebagai orangtua. Di lain sisi, kamu berharap, mama dapat kembali menjadi orang “baik” seperti dulu.

Tak mudah menasihati orang yang lebih tua. Biasanya, nasihat datang dari orangtua kepada anak. Namun, situasi terbalik ketika anak menyadari kelakuan orangtuanya tak baik dan tak benar. Di lain sisi, anak juga harus memahami, orangtua bisa khilaf, salah dalam bersikap, dan berbicara.

Kasus di atas, tampaknya mama sedang jatuh cinta. Perasaan itu telah “membutakan” segalanya. Robert Sternberg, psikolog asal Amerika, dalam teorinya Triangular Theory of Love (Segitiga Cinta) menyebut tiga komponen cinta yaitu, passion (gairah), intimacy (keintiman), dan commitment (komitmen).

Gairah muncul dalam bentuk stimulasi emosi maupun kegairahan seksual, antusias, dan kegembiraan yang kuat. Keintiman terbentuk melalui interaksi emosional untuk saling melengkapi satu sama lain. Di dalamnya ada kehangatan, kepercayaan, dan keinginan untuk membina hubungan. Sementara komitmen adalah elemen kognitif, bekerja untuk mempertahankan hubungan dengan pasangan termasuk keputusan untuk terus membina, menjaga, mendukung, dan menjalankan kehidupan bersama.

Berangkat dari teori itu, kamu bisa menilai kualitas cinta antara mama dengan pria itu. Berdasarkan ceritamu, mungkin komponen yang kuat adalah kegairahan dan keintiman namun minim komitmen. Hal ini menunjukkan tipe cinta romantis. Jenis cinta ini biasa dialami oleh remaja puber.

Cinta berdasarkan komitmen biasanya kuat, saling menjaga, menghormati, dan mengasihi. Di samping berupaya untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Namun pada kasus mamamu, komitmen ini kurang bahkan tak tampak.

Ada beberapa alternatif solusi, pertama, berkomunikasi dengan mama dalam situasi nyaman, dari hati ke hati, dan tak saling menyalahkan. Pahami pikiran, situasi, dan problema mama. Cari tahu penyebabnya. Berpikir positif dan hanya mendengarkan. Mungkin mama merasa berat menjadi orangtua tunggal sehingga membutuhkan dukungan dalam beragam bentuk termasuk perhatian dan kasih sayang, sementara anak sibuk dengan aktivitas sendiri. Mungkin mama kesepian sehingga butuh teman untuk sharing. Demi menjaga relasi baik anak-orangtua, bisa diawali dengan memberi komentar positif, lalu kritik dan komentar negatif. Ada ahli mengatakan, lima berbanding satu. Artinya lima komentar positif dan satu komentar negatif agar relasi tetap baik.

Kedua, minta anggota keluarga yang lebih tua dan disegani, namun menjaga agar tak terlalu dalam. Ketiga, berdoa dan percayalah, campur tangan Tuhan selalu ada dalam langkah hidupmu. Dalam Matius 11:28 dikatakan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”.

Keempat, fokus kepada hidupmu dan menjalani hidup sebagai orang Katolik. Berupaya untuk sukses agar bisa hidup mandiri kelak. Fokus pada problema mama akan banyak menguras pikiran bahkan membuatmu stres. Kelima, bisa menjadi “sahabat” bagi mama dalam situasi dan kondisi apapun. Sediakan waktu yang berkualitas bersama mama dan pinggirkan gadget agar tak sibuk sendiri-sendiri.

Praharesti Eriany

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 2 Tanggal 8 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*