Artikel Terbaru

Romo Hadrianus Tedjoworo OSC: Menangkap Imaji di Meja Operasi

Hadrianus Tedjoworo OSC
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Romo Hadrianus Tedjoworo OSC: Menangkap Imaji di Meja Operasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengalaman sakratulmaut menjadikan Romo Tedjo ikhlas menerima kematian setiap saat. Pengalaman itu adalah imaji yang dihadirkan Tuhan untuk ditangkap dan dibagikan.

Kerabat dan handai taulan mengatupkan doa. Rekan-rekan sekomunitas pun berkanjang dalam doa, mohon kalau bisa “piala” itu lalu daripadanya. Bagaimana mungkin, imam muda kebanggaan tarekat itu harus pergi lebih cepat. Rasanya Tuhan tak adil memperlakukan murid yang sudah Ia pilih. Tapi apa boleh buat, kalau Tuhan berkehendak, manusia hanya bisa mengamini.

Romo Tedjo terbaring lemah di ruang Intensive Care Unit sebuah rumah sakit di Bandung, Jawa Barat. Ia mengerang kesakitan tak henti tiap kali menghela napas. “Kalau mau bernapas, saya kesakitan luar biasa,” ujar Romo Hadrianus Tedjoworo OSC mengenang peristiwa yang tak bakal raib dari perjalanan hidupnya itu.

Waktu itu, akhir Januari 2010. Ia didiagnosa menderita batu empedu. Dokter yang menangani minta Romo Tedjo harus naik meja operasi. Waktu yang dibutuhkan untuk operasi hingga pemulihan awal sekitar 10 hari. Ketika tiba waktu yang sudah disepakati, pisau bedah pun membelah tubuhnya.

Di saat itulah sial menghampiri. Setelah operasi, bukannya sembuh, Romo Tedjo malah mengalami sakit luar biasa tiap kali bernapas. Kondisinya kian kritis hingga diprediksi tak bakal tertolong. Setelah dicek, ternyata ada sayatan pisau di saluran empedu sehingga menyebabkan “banjir” di sekitar lever (hati) dan paru-paru. Tiga selang dipasang untuk mengeluarkan cairan itu, tapi tak banyak menolong.

Akhirnya, Romo Tedjo diterbangkan ke Singapura. Begitu tiba, dokter di sana bergerak cepat dengan melakukan computed tomography scan. Empat selang ditambah lagi, total ada tujuh selang untuk menguras cairan dalam tubuhnya. Perlahan-lahan, kondisi Romo Tedjo yang semula sekarat, berangsur membaik. Doa dan harapan orang-orang di sekitarnya terjawab. Perkiraan awal hanya butuh 10 hari untuk proses operasi dan penyembuhan awal, molor sampai 10 bulan. “Tapi saya tidak pernah menyesal dengan peristiwa operasi itu,” imbuh imam kelahiran Yogyakarta, 16 September 1971 ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*