Artikel Terbaru

Adven Eskatologis

Adven Eskatologis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mengapa bacaan-bacaan pada Minggu Adven pertama tidak langsung mengarahkan kita kepada kedatangan Kristus di Betlehem, tetapi kepada kedatangan Kristus pada akhir zaman? Bukankah hal akhir zaman sudah ditampilkan pada akhir masa tahun liturgi?

Emilia Victoria Wicaksani, Malang

Pertama, kata “adven” berasal dari “adventus” (Latin) yang berarti kedatangan. Ada dua kedatangan yang dirujuk, yaitu kedatangan Kristus yang kedua pada akhir zaman (Adven eskatologis) dan kedatangan Kristus yang pertama di Betlehem (Adven historis). Memang liturgi minggu Adven pertama sampai 16 Desember diarahkan kepada kedatangan Kristus yang kedua, sehingga bacaan-bacaan juga diwarnai Adven eskatologis ini. Sedangkan dari 17 Desember sampai 24 Desember, bacaan dalam perayaan Ekaristi maupun ibadat harian, diarahkan secara lebih jelas kepada persiapan menyambut kelahiran Yesus di Betlehem. Bagian kedua ini merupakan persiapan jangka pendek yang intensif untuk merayakan pesta kelahiran Yesus.

Kedua, peletakan Adven eskatologis pada awal masa Adven bertujuan agar kita menghayati kembali masa penantian yang panjang umat manusia untuk kehadiran Yesus yang pertama, tetapi kini masa penantian itu diarahkan kepada kedatangan-Nya yang kedua. Perspektif akhir zaman ini mengingatkan kita bahwa keselamatan yang telah kita terima melalui kelahiran Yesus di Betlehem masih harus dibawa kepada kesempurnaan pada akhir zaman (1 Ptr 1:5).

Hal ini sekaligus menghadirkan kesadaran akan sifat eskatologis Gereja musafir. Gereja hidup dalam keberlangsungan proses karya keselamatan Allah yang sudah dinyatakan Yesus, dan sedang diwujud kembangkan serta senantiasa dinantikan kepenuhannya. Katekismus menegaskan hal ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan datangnya Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang panjang menjelang kedatangan Penebus yang pertama dan membarui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (Why 22:17).” (KGK 524). Dimensi eskatologis ini mengingatkan kita akan tugas misioner Gereja untuk mewartakan Sabda Allah kepada segala bangsa dan untuk senantiasa berjaga-jaga menyongsong kepenuhan Kerajaan Allah.

Ketiga, memang benar bahwa bacaan-bacaan tentang akhir zaman sudah muncul pada akhir tahun liturgi, yaitu seputar Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Pada saat itu, kita diingatkan kepada tujuan akhir hidup kita. Kemunculan kembali bacaan-bacaan tentang akhir zaman pada masa Adven menunjukkan bahwa tujuan akhir hidup itu sudah hadir dan meresapi sejak awal seluruh proses penebusan. Tujuan akhir penebusan itu bukanlah tambahan sebagai penutup proses penebusan, tetapi motor yang menggerakkan seluruh proses penebusan. Tuhan yang dinantikan pada akhir zaman itu adalah Tuhan yang telah datang sepenuhnya dalam diri Yesus dari Nazareth. Inilah yang membawa kegembiraan dan harapan. Karena itu tindakan berjaga-jaga dan menanti dijalani dengan kegembiraan dan harapan, bukan dengan perasan takut dan cemas.

Keempat, dengan perspektif Adven eskatologis, Gereja mengajak kita untuk menghayati keutamaan pengharapan yang mantap dan gembira. Pengharapan inilah yang diungkapkan dalam pertobatan dan sikap berjaga-jaga untuk menyambut kepenuhan penebusan. Dengan perspektif Adven historis, Gereja mengajak kita menghayati sikap takwa dalam iman, percaya kepada Yesus dan ajaran-ajaran Nya sebagai penjelmaan Allah Putra. Di sini dituntut sikap berpaling sepenuhnya kepada Allah dengan kemurnian hati kita. Penjelmaan Allah Putra menjadi manusia telah menyucikan martabat manusia dan karena itu juga mengajak kita menghargai manusia, siapapun dan bagaimanapun keadaannya. Keutamaan -keutamaan kristiani inilah yang hendak dipupuk selama masa Adven..

Pastor Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 48 Tanggal 30 November 2014

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*