Artikel Terbaru

AKBP Maria Sorlury: Tidak Ada Ampun

AKBP Maria Sorlury.
[NN/Dok.Pribadi]

HIDUPKATOLIK.comNarkoba menjadi ancaman yang merusak tatanan sosial dan kehidupan masyarakat. Semua pihak mesti bergandeng tangan untuk memerangi masalah ini.

Di Indonesia, selain korupsi, narkoba masih menjadi musuh besar negeri ini. Melihat kenyataan itu, Presiden RI Joko Widodo dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menyatakan Indonesia sebagai negara dalam status darurat narkoba.

Kabid Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta (1 Desember 2016-2018) AKBP Maria Sorlury mengungkapkan, kasus penyalahgunaan narkoba naik terus-menerus. Upaya-upaya memerangi masalah narkoba, kata penyuluh di bagian Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN (2013-2016) ini, mesti dilakukan semua pihak.

Bagi dia, tidak ada ampun bagi mereka yang menggunakan narkoba. Namun pendampingan dan pemberdayaan kepada mereka yang terjerat narkoba dan mantan pengguna narkoba tetap dilakukan. Berikut ini petikan wawancaranya:

Seperti apa perkembangan jumlah pemakai narkoba di Indonesia? Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya seperti apa perban dingannya?

Pada 2016, ada sekitar empat juta lebih pengguna narkoba di Indonesia. Sementara pada tahun sebelumnya, jumlah pengguna narkoba tidak mencapai angka itu. Penyalahgunaan narkoba naik terus-menerus dari waktu ke waktu. Tidak ada kata turun! Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memerangi.

Saya selalu bertindak tegas. Tak ada ampun bagi pemakai dan pengedar narkoba! Sekalipun saya bertemu dengan mereka yang sesama dengan saya (pemeluk agama Katolik-Red), tidak ada ampun.

Agama Katolik yang saya peluk mengajarkan nilai-nilai kasih. Tapi dalam menjalankan pekerjaan, saya harus menindak tegas mereka yang berhubungan dengan narkoba. Ini bertolak belakang, karena ini bagian dari pekerjaan saya.

Upaya-upaya seperti apa yang bisa dilakukan untuk memerangi narkoba?

Kita sebenarnya bisa melakukan pencegahan, yakni bagaimana agar orang jangan sampai pakai narkoba. Kami mengadakan penyuluhan-penyuluhan, termasuk juga ke sekolah-sekolah, dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Kami juga bekerja sama dengan agama-agama untuk mengadakan penyuluhan, seminar, dan lain-lain.

Selain itu, kami memberikan rehabilitasi bagi para pengguna narkoba. Hanya rata-rata pemakai itu tidak mau direhabilitasi. Tapi mereka harus dipaksa. Mereka tak mau, karena masih ingin memakai narkoba lagi dengan bebas. Kalau sudah jatuh ke narkoba itu sangat sulit untuk melepaskan diri dari jeratnya. Kalau dibandingkan 75:25; 75 yang menolak direhabilitasi, 25 yang mau direhabilitasi.

Pendampingan terhadap mereka yang sudah direhabilitasi dan mantan pengguna seperti apa?

Sejak 2013-2016, saya mendapat tugas sebagai penyuluh di bagian Pemberdayaan Masyarakat BNN. Selain memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya narkoba dan mensosialisasikan upaya memerangi narkoba, juga mendampingi dan memberdayakan para mantan pemakai narkoba yang menjalani rehabilitasi.

Kami mempersiapkan mereka dengan berbagai hal. Kami memberikan keterampilan sebagai bekal, misal memperbaiki pendingin ruangan, membuat kue, menggunting rambut, merias wajah, dan merajut. Keterampilan ini bisa mereka pilih sesuai dengan minat masing-masing. Harapannya dengan bekal kete rampilan tersebut, ketika sudah selesai direhabilitasi, mereka bisa mandiri dan menggunakan keterampilan tersebut. Biasanya tiga bulan sebelum keluar, bekal keterampilan itu diberikan. Sebelumnya lebih fokus untuk merehabilitasi mereka.

Mereka yang terjerat narkoba bisa pulih, tapi harus berjuang agar tidak jatuh lagi. Kebanyakan mereka yang tertangkap akan bertobat selama satu bulan pertama. Lalu tiga bulan berikutnya nggak sadar lagi, mulai pakai narkoba kembali.

Harapan terkait masalah narkoba ini?

Saya berharap Gereja Katolik dan berbagai pihak, bersama-sama memerangi narkoba. Ini masalah kita bersama. Saya juga berharap pendampingan dan pemberdayaan bisa diberikan kepada mereka. Di samping itu, semoga orang yang pernah mencicipi barang ini (narkoba-Red) bisa mengubah perilaku untuk lepas dari jeratannya. Keluar rehabilitasi harus memulai hidup baru, tidak berhubungan dengan lingkungan yang dulu.

Maria Pertiwi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 2 Tanggal 8 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*