Artikel Terbaru

Pendidikan Katolik Menafsir Zaman

Pendidikan Katolik Menafsir Zaman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ada dua fakta menarik dari dunia pendidikan tinggi yang mungkin terlewatkan dari perhatian beberapa waktu terakhir. Pertama, masuknya lima perguruan tinggi Katolik dalam peringkat 40 besar perguruan tinggi terbaik se-Indonesia oleh Kemenristekdikti 2015. Lima dari 10 perguruan tinggi swasta (PTS) yang ada dalam peringkat 40 besar tersebut adalah perguruan tinggi Katolik. Perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (24), Universitas Parahyangan Bandung (25), Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (28), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta (33), dan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang (39).

Kedua, terdapat lima pergu ruan tinggi Katolik yang masuk dalam daftar 60 besar pemeringkatan kinerja penelitian Kemenristekdikti 2016, yaitu Universitas Atma Jaya Yogyakarta (36), Universitas Parahyangan (37), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta (39), Universitas Sanata Dharma (53), dan Universitas Katolik
Soegijapranata Semarang (55). Pemeringkatan ini mengukur pencapaian perguruan tinggi dalam pengelolaan dan diseminasi penelitian di berbagai jurnal ilmiah.

Pencapaian ini semoga merupakan manifestasi ciri khas dan panggilan perguruan tinggi Katolik, seperti disebut dalam Konstitusi Apostolik Ex Corde Ecclesiae tentang Universitas Katolik. Pengakuan pemerintah terhadap kontribusi perguruan tinggi Katolik ini mengingatkan kita bahwa peran perguruan tinggi Katolik merupakan kontribusi yang tidak tergantikan bagi dan oleh Gereja. Perguruan tinggi Katolik bertanggung jawab untuk membantu Gereja dalam menghadapi tantangan dan permasalahan zaman .

Prestasi perguruan tinggi Katolik itu tentu dapat menjadi salah bentuk best practice pengelolaan pendidikan Katolik. Ini juga menjadi contoh kesetiaan pada misi Gereja, nilai etika moralitas, intelektualitas,
dan profesionalisme yang termanifestasi secara konkret dan transformatif dalam pengembangan pendidikan tinggi dan masyarakat.

Kesetiaan pada misi dan identitas merupakan hal yang fundamental. Celakanya, dewasa ini tak sedikit institusi yang kesulitan menghidupi identitas diri sebagai institusi pendidikan Katolik. Hal ini diakibatkan tidak terwariskannya identitas asali dari para pendiri, dan hanyut dalam kompetisi pendidikan sehingga menjadi sangat pragmatis dalam menyikapi dinamika pendidikan nasional.

Sikap pragmatis ini merupakan gejala umum, yang cenderung mengganti agenda pendidikan dengan kepentingan profit finansial, kepentingan industri, dan korporasi serta gaya hidup masyarakat modern. Dalam situasi demikian, institusi pendidikan Katolik akan dengan mudah menjelma menjadi industri pendidikan, dan hanya akan menjadi satu roda kecil dalam dunia kapital. Bersikap pragmatis seringkali juga berarti cenderung mengabaikan nilai kejujuran dan integritas. Dalam logika industri pendidikan, seringkali kepalsuan dan pencitraan menjadi lebih penting dari semua hal lain.

Berpijak pada nilai-nilai pendiri serta idealisme pendidikan Katolik yang berakar pada iman Kristiani, dokumen Gereja, serta tradisi pedagogis yang handal, adalah fundamental dalam menyikapi perubahan zaman dan tantangan masa depan dunia pendidikan. Sikap ini pada dasarnya merupakan sebuah langkah awal yang mendasar dalam proses kontekstualisasi pendidikan Katolik zaman ini agar tidak tenggelam dalam pragmatisme dan sindrom “sejarah nama baik” yang membuat sulit berubah untuk melakukan inovasi pengelolaan pendidikan.

Lain dari itu, semua perguruan tinggi Katolik yang berprestasi berada di kota besar Pulau Jawa. Tentu ini menyiratkan bahwa Gereja Katolik Indonesia perlu lebih memberi perhatian pada institusi pendidikan di luar Pulau Jawa, dan menjadi reality check, apakah Gereja kita masih terlalu “Jawa sentris”?

Peran kaum awam menjadi sangat penting dan krusial. Perkembangan institusi pendidikan Katolik hanya akan terjadi bila kaum awam Katolik juga menyadari peran dan fungsinya dalam institusi pendidikan Katolik adalah peranan apostolik yang berdampak bagi pewartaan Gereja. Gereja bersama kaum awam harus semakin terpanggil untuk membangun institusi pendidikan Katolik yang kontekstual dan berkualitas.

Augustinus Widyaputranto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 2 Tanggal 8 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*