Artikel Terbaru

Beato Otto Neururer (1882-1940): Imam Pejuang Hak Kaum Buruh

Gambar Beato Otto Neururer di Gereja Paroki Götzen.
[kapelaGötzens.com]

HIDUPKATOLIK.comIa gigih membela ajaran Kristus yang diserukan dalam Enskilik Rerum Novarum. Ia adalah imam pertama yang wafat di Kamp Konsentrasi Nazi.

Polisi Rahasia Negara (Geheime Staatspolizei/Gestapo) memporak-porandakan Kota Tirol, Austria. Gestapo adalah polisi rahasia Nazi yang dibentuk oleh Hermann Wilhelm Göring (1893-1946) pada April 1933 sebagai upaya meredam lawan politik Adolf Hitler (1889-1945). Dalam proses ini, berbagai bentuk penganiayaan dan teror dilancarkan.

Kehadiran Polisi Gestapo tak sekadar memaksakan ideologi Nazi, tetapi juga menorehkan wajah suram penderitaan. Ideologi bersifat mengikat bagi semua masyarakat. Siapapun yang menolaknya akan segera ditangkap, kemudian dijebloskan ke kamp-kamp konsentrasi Nazi. Ribuan orang mendekam di penjara dan tak terhitung yang meninggal, termasuk beberapa imam. Salah satu imam korban keganasan Nazi yaitu Pater Otto Neururer. Dialah imam pertama yang wafat di kamp konsentrasi Nazi.

Dendam Maut
Tahun 1932, Paroki Götzens di Administrasi Apostolik Innsbruck–Feldkirch (kini Keuskupan Innsbruck, Austria) dipimpin Pater Otto. Sebagai gembala, Pater Otto sangat peka terhadap situasi umatnya. Kepekaannya ini mewujud dalam bentuk perhatian terhadap keluarga-keluarga Katolik. Suatu hari, ia mendengar berita seorang gadis saleh hendak menikah dengan seorang duda yang bermoral bobrok. Pater Otto menyarankan agar si gadis tidak menikahinya. Saran itu justru berakibat buruk bagi Pater Otto. Ternyata, laki-laki itu adalah sahabat dekat Gauleiter Nazi di Tirol. Gauleiter adalah pemimpin Gestapo.

Segera pasukan Gestapo dikerahkan untuk menangkap dan menjebloskan Pater Otto ke dalam penjara di Innsbruck, 15 Desember 1938. Ia dicekal dengan tuduhan merugikan pernikahan orang Jerman. Tanpa proses pengadilan, Pater Otto lalu digelandang masuk Kamp Konsentrasi Dachau, Jerman, 3 Maret 1939. Pada 26 September 1939, ia lalu dipindahkan ke Kamp Konsentrasi Buchenwald, di Ettersberg, dekat Weimar, Jerman.

Selama menjalani masa tahanan, Pater Otto kerap mendapat siksaan fisik dan psikis secara keji. Ia menderita kelaparan dan serba kekurangan. Kendati begitu, ia tetap menunjukkan kebesaran hati sebagai imam dengan tetap mengasihi sesama. Hal ini terbukti dengan kerelaannya berbagi jatah makanan miliknya dengan tahanan lain yang kelaparan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*