Artikel Terbaru

Stephanus Michael Dwiprasetyo Widjanarko: Masih Ada Tephi di F1

Stephanus Michael Dwiprasetyo Widjanarko
[NN/Dok.Pribadi]

HIDUPKATOLIK.comFormula One menuntut kualifi kasi tingkat tinggi. Bermodal passion, totalitas, dan wawasan, Tephi menjadi satu-satunya engineer asal Indonesia di balapan jet darat itu.

Indonesia begitu heboh ketika Rio Hariyanto membalap di ajang Formula One-F1. Pasalnya, Rio adalah pembalap Indonesia pertama yang bertarung di ajang balapan jet darat ini. F1 disebut-sebut sebagai ajang balapan paling bergengsi. Jangankan untuk menjadi juara, tampil di F1 saja membutuhkan kombinasi bakat dan uang.

Karena ketiadaan uang, Rio akhirnya hanya membalap setengah musim. Tetapi bukan berarti tak ada orang Indonesia lagi di F1. Di tim Scuderia Torro Roso, masih ada Stephanus Michael Dwiprasetyo Widjanarko. Ia adalah seorang Aerodynamicist. Tugasnya mengurusi teknik aerodinamika pada sebuah mobil F1. Tephi, sapaannya, bertanggung jawab untuk bagian depan mobil yang memiliki kontak langsung dengan udara luar.

Gambaran umumnya, jelas Tephi, ia bertugas merancang bagian front wing atau sayap depan, nose atau hidung mobil, dan bagian depan lainnya yang berhubungan dengan aero performance mobil. Sebagai bagian pertama yang menabrak aliran udara, nose dan front wing berperan sangat penting dalam mengatur efisiensi aerodinamika mobil secara keseluruhan. Jika bagian ini diubah, seluruh komponen mobil di belakangnya pun memerlukan penyesuaian. “Saya selalu deg-degan setiap sebelum homologasi crash test dari FIA (Federation Internationale de l’Automobile-Red). Kalau gagal tes, mobil tidak boleh turun ke sirkuit,” kisahnya.

Lompat Pagar
Sejak tahun terakhir di bangku Sekolah Menengah Atas, Tephi keranjingan menonton acara seputar dunia mesin, termasuk balapan dan otomotif di televisi. Dalam hatinya mulai bersemi keinginan untuk mendalami dunia engineering. “Tontonan itu memang membangkitkan daya tarik saya saat itu.”

Tephi juga menyebut, kiprahnya saat ini merupakan warisan sang ayah. Bahkan sejak kecil, ayahnya suka menonton acara balapan, otomotif, dan olahraga di televisi. “Jadi ini semacam gen dari orangtua, khususnya ayah,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Duduk di bangku kuliah, penyuka fotografi ini memutuskan untuk mengambil Jurusan Mesin di Institut Teknologi Bandung (ITB). Suatu ketika, ia diajak ayah dan pamannya menonton balapan FI di Sepang, Malaysia. Dari tribun, ia menyaksikan langsung para pembalap memacu deretan mobil tercepat di muka bumi itu.

Usai balapan, ketika track sudah kosong Tephi nekat melompat pagar pembatas penonton. Ia menuju ke paddock sebuah tim F1 dan menyaksikan tim F1 membereskan mobil yang baru saja bertarung. “Saya melihat tim itu sedang beres-beres,” kenangnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*