Artikel Terbaru

Kenang Gus Dur, Kangen Toleransi

Gus Dur bersama Mgr Suharyo (paling kiri) dan Kardinal Darmaatmadja (paling kanan) dan beberapa tokoh agama.
[NN/Dok.HIDUP]
Kenang Gus Dur, Kangen Toleransi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKata Gus Dur, “Tidak penting apapun agama dan sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Presiden RI Joko Widodo memasuki kediaman mantan Presiden RI K.H Abdurrah man Wahid alias Gus Dur. Presiden ketujuh RI yang akrab disapa Jokowi, mengenakan baju koko dan sarung putih dengan atasan jas dan bertopi peci. Kedatangan Jokowi disambut dengan shalawat Badar oleh ribuan santri. Jokowi datang menghadiri acara Haul Gus Dur ketujuh di kompleks Al-Munawwaroh Ciganjur, Jakarta Selatan, akhir Desember 2016.

Sejumlah pejabat pemerintah, tokoh agama, politikus, budayawan, seniman, dan Gus durian atau para pengikut Gus Dur menghadiri acara ini. Hadir pula tiga pasangan calon Gubernur (Cagub) dan Wakil Gubernur (Cawagub) DKI Jakarta. Saat memberi sambutan, Jokowi mengabsensi tiga pasangan calon pemimpin ibukota negeri ini. “Di sini hadir semua cagub. Ayo diabsen,” kata Jokowi. Saat Jokowi menyebut nomor urut satu, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni berdiri. Nomor urut dua, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat berdiri. Sedangkan pasangan nomor urut tiga, hanya Anies Baswedan yang berdiri karena Sandiaga Uno belum tiba.

Tiap kali Jokowi menyebut nomor urut, warga yang hadir menyambut dengan teriakan dan tepuk tangan. Setelah semua cagub-cawagub berdiri, Jokowi mengatakan, “Lah mbok yang rukun ya. Wong kita kan saudara sebangsa dan setanah air. Persaudaraan itu kan yang diajarkan Gus Dur.” Pernyataan itu langsung disambut tawa semua yang hadir.

Humoris
Peringatan tujuh tahun wafatnya Gus Dur diisi dengan berbagai kegiatan, seperti Tahlil, peringatan Maulid Nabi Muhammad, taushiyah, doa bersama, deklarasi damai, dan pembacaan puisi. Haul mengambil tema, “Ngaji Gus Dur: Menebar Damai, Menuai Rahmat”. Tema ini direfleksikan dari pengalaman kebersamaan dengan almarhum Gus Dur. Dalam banyak kesempatan, Gus Dur diakui sebagai seorang kiai kontroversial, namun ucapannya seringkali membuat banyak orang sadar. Pernyataan-pernyataan Gus Dur memancing orang untuk ikut merenung. Banyak orang mengenang dia sebagai “The King of Joke”, ‘Raja Canda’.

Presiden keempat RI ini memang unik. Dalam situasi genting pun dia masih melucu. Persoalan-persoalan kebangsaan kadang ia plesetkan menjadi lelucon. Kendati begitu, Gus Dur dikagumi, tak saja dikalangan Nadlatul Ulama (NU), tapi juga organisasi besar Islam yang lain, seperti Muhammadiyah. Gus Dur pernah bercerita kepada Presiden Kuba Fidel Alejandro Castro Ruz begini: “Presiden Indonesia mempunyai penyakit gila yaitu Presiden Soekarno gila wanita, Presiden Soeharto gila harta, Presiden Habibie benar-benar gila alias gila benaran, sedangkan Presiden Gus Dur sering membuat orang gila dan yang memilihnya juga orang gila.” Cerita ini membuat Fidel Castro tertawa terbahak-bahak.

Selain berjiwa humor, Gus Dur juga dikenal suka membantu orang yang kesulitan. Ketika mengunjungi Kantor Pengurus Besar NU di bilangan Jakarta Pusat, biasanya Gus Dur menandatangani berbagai surat rekomendasi yang diminta oleh siapa saja yang hendak melanjutkan kuliah ke luar negeri. Ia sangat marah bila asistennya mengingatkan apakah orang yang diberi rekomendasi itu dikenal atau tidak. Tak heran banyak oknum yang suka memanfaatkan kemurahan hatinya itu. “Almarhum selalu berpesan supaya bergaul dengan siapapun, tidak perlu menanyakan asal-usul orang tersebut,” ungkap anak kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*