Artikel Terbaru

Haul Tujuh Tahun Wafat Gus Dur

Romo Franz Magnis-Suseno SJ pada usia 80 tahun.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]

HIDUPKATOLIK.com – Dua puluh tiga Desember lalu, ribuan santri perempuan dan laki-laki dengan riuh gempita memperingati tujuh tahun wafat K.H. Abdurrahman Wahid, ya Gus Dur kita, di kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan. Tokoh-tokoh dari semua agama menghadirinya, termasuk Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja SJ dan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo.

Bagi saya ada dua puncak dalam acara malam itu. Yang pertama adalah nyanyian islami para santri selama lebih dari satu jam, tanpa interupsi. Betul-betul dahsyat. Mendengar mereka bersorak-sorai, kekhawatiran yang kadang-kadang disuarakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) mulai melemah dan tersingkir oleh mereka yang lebih keras berkesan hampa. Haul Gus Dur ini sepertinya mempermaklumkan kepada Indonesia bahwa “Kami akan meneruskan cita-cita Gus Dur, bukan hanya demi harga diri Islam, melainkan demi keselamatan Bangsa Indonesia”.

Yang kedua adalah pidato Presiden Joko Widodo yang jelas, tegas, sederhana, lurus, sangat mengena, dan bagus. Presiden sepertinya amat sadar bahwa para Nahdliyin dan mereka yang sehati sejiwa merupakan jaminan bahwa Indonesia, Indonesia yang ber-Pancasila, akan bersatu maju di masa depan.

Tentu, kita dapat bertanya sejauh mana semangat dahsyat beberapa ribu orang, kebanyakan muda, di Ciganjur itu mengizinkan menarik kesimpulan pada situasi Indonesia. Bagaimana mereka yang tidak tersentuh oleh NU (dan Muhammadiyah)? Sejauh mana NU dan Muhammadiyah akan berhasil menyemangati generasi muda mereka. Jangan-jangan mereka terjangkit oleh visi-visi yang menyebar dari Timur Tengah ke Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Utara.

Justru karena pertanyaan itu tak mudah dijawab, perlu kita ingat kembali akan Gus Dur. Cita-citanya, Islamnya, jati-dirinya sebagai nasionalis Indonesia, sosoknya sebagai seorang pluralis, humanis dan visioner penuh keberanian. Itu pun dalam kesatuan kepribadian yang utuh, runtut, sangat mantap, penuh percaya diri. Kita bisa bertanya: di mana letak pesona Gus Dur?

Percaya diri, barangkali itu ciri paling mencolok Gus Dur. Ia dengan tenang dan tertawa dapat mengambil sikap yang berani dan berbahaya karena ia percaya diri. Ia bebas dari segala perasaan minder. Karena itu, ia tidak perlu terus menerus membenarkan atau membela diri. Orang tidak setuju dengan dia, peduli amat Beliau!

Kepercayaan diri itu menjelaskan sikapnya terhadap agamanya sendiri, Islam, yang bagi beberapa saudara seiman sulit diterima. Ada yang mempertanyakan Gus Dur: kok baik-baik terhadap umat beragama lain, namun keras terhadap agamanya sendiri? Tetapi kenyataannya sangat sederhana. Gus Dur begitu mantap dalam keyakinan Islaminya sehingga ia tidak lagi merasa perlu terus membelanya, memenangkannya, menyuarakannya. Gus Dur mantap sebagai orang Muslim. Sebagai cucu K.H. Hasjim Asj’ari, pendiri NU, dan putera K.H. Wahid Hasjim, tokoh Muslim (yang pada 18 Agustus 1945 bersedia menerima Pancasila dengan dicoret tujuh kata tentang Syariat Islam) dan Menteri Agama pertama Republik Indonesia (RI), keislaman menjadi darah dagingnya.

Kalau Gus Dur mengkritik Islam, maka demikian supaya syiar Islam menjadi kentara. Yang dibenci Gus Dur adalah segala macam kepicikan. Tidak hanya di pihak agamanya sendiri. Misalnya, anggapan bahwa hanya orang yang dibaptis bisa masuk surga. Salah satu lelucon Gus Dur adalah mengenai pendeta yang masuk surga. Di surga Malaikat Jibrail menempatkannya di ruang nomor 15. Kemudian ada lagi macam-macam orang masuk surga: ada kiai, pengemis, bikkhu, pastor, dan lain-lain. Mereka semua dikumpulkan di ruang tengah duduk di kursi-kursi malas. Jam 12 siang, Malaikat Jibrail mengajak mereka ke ruang makan untuk makan siang. Sang kiai bertanya: Malaikat, lha pendeta di kamar 15, apa tidak boleh makan siang? Jawab Malaikat: “Kiai, kita di surga; tentu ia akan mendapat makanan; tetapi kalau ia melihat Anda semua, ia akan begitu kecewa karena mengira bahwa ia sendirian saja di surga.” Itulah Gus Dur.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*