Artikel Terbaru

St Jacques Honoré Chastan MEP (1803-1839): Ke Tanah Misi Tanpa Pelukan Ibu

St Jacques Honoré Chastan MEP
[Korea.net]
St Jacques Honoré Chastan MEP (1803-1839): Ke Tanah Misi Tanpa Pelukan Ibu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pastor Chastan sangat merindukan pelukan dan ciuman dari ibunya sebelum ia berangkat ke tanah misi. Sampai wafat, kerinduannya itu tak pernah terpenuhi.

Imam muda itu berlutut di hadapan orangtuanya, mohon restu untuk berangkat ke tanah misi. Sebentar lagi, ia akan menapaki perjalanan jauh, mengarungi lautan lepas menuju Asia. Tekad imam muda itu sudah bulat, ia harus berangkat untuk mengenalkan Kristus di Bumi Asia. Tapi, sembari berlinang air mata, sang ibu mohon agar keinginan putranya ditangguhkan. Ia dan suaminya tak menyangka, putra kesayangannya harus pergi lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Puteranya baru ditahbiskan imam tiga bulan sebelumnya.

Namun imam muda itu bersikukuh. Ia tetap ingin berangkat. Ia pun mencoba meyakinkan orangtuanya, bahwa misi yang hendak ia jalani nanti tidak sulit. Ia merasa mampu untuk menjalaninya. Yang ia butuhkan hanyalah sebuah pelukan, pun kecupan hangat dari seorang ibu dan ayah sebelum akhirnya ia benar-benar angkat kaki dari rumah. Sayang sekali, harapan itu tinggal harapan. Si imam muda harus pergi tanpa pelukan dan kecupan lantaran orangtuanya tetap tak merestui keberangkatannya.

Imam muda itu dirundung kesedihan mendalam. Ia mulai bertanya dalam hati, jangan-jangan itu adalah perjumpaan terakhir dengan orangtuanya. Namun apa pun alasannya, ia harus berangkat. Ia sudah mengikat janji dengan Kristus untuk pergi mewartakan Kabar Baik kepada orang-orang yang belum mengenal-Nya. Akhirnya, imam muda yang bernama Pastor Jacques Honoré Chastan MEP itu berangkat ke Asia untuk bermisi di Korea.

Mimpi Jadi Misionaris
Chastan tumbuh dalam lingkungan keluarga petani sederhana. Ia lahir dari pasangan André Sébastien Chastan dan Marie-Anne Rougon di sebuah desa kecil di Roubauds, Marcoux, Perancis, 7 Oktober 1803. Roubauds masuk dalam wilayah Marcoux, Basses-Alpes, sekitar enam kilometer dari Kota Digne. Roubauds terkenal karena keramahtamahan warga desanya. Mayoritas penduduk desa itu berprofesi sebagai peternak. Di tengah kultur masyarakat seperti itulah Chastan tumbuh.

Sejak belia, anak pertama dari delapan bersaudara ini sangat menyukai cerita-cerita tentang para misionaris di tanah misi. Ia banyak membaca buku tentang pengalaman kerasulan para misionaris. Perlahan timbul keinginan dalam diri Chastan; kelak ia mau menjadi misionaris. Dari cerita-cerita itu, ia tahu bahwa berangkat ke tanah misi adalah pekerjaan yang sangat sulit. Namun, ia percaya penyelenggaraan Ilahi akan menuntunnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*