Artikel Terbaru

Melejitkan Kembali Sekolah Katolik

Melejitkan Kembali Sekolah Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dalam sebuah dialog tentang sekolah Katolik yang digagas oleh Sumber Daya Rasuli (Sudara), kelompok kategorial yang membawahi para praktisi dan pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) Katolik, salah satu narasumbernya, Agung Adiprasetyo mengibaratkan sekolah Katolik itu seperti bemo. Agung Adiprasetyo mantan Direktur Utama Kelompok Kompas Gramedia yang kebetulan sejak TK hingga perguruan tinggi bersekolah di yayasan Katolik, menuturkan dulu ketika ia sekolah, sekolah Katolik merupakan kendaraan paling bersinar di zamannya. Ia mengibaratkan sekolah Katolik itu semacam bemo, kendaraan yang modern, cepat, sesuai dengan zamannya dan “mewah”. Sementara sekolah-sekolah lainnya tak lebih semacam sepeda atau becak. Posisinya di bawah sekolah Katolik.

Menjadi keprihatinan, para pengelola sekolah Katolik itu begitu bangga dengan bemonya. Zaman bergerak, terjadi perubahan dimana-mana. Becak ditinggalkan dan sepeda tak lebih dari “klangenan”. Kendaraan aneka macam ditawarkan kepada konsumen. Mereka tinggal memilih dari mobil paling mewah, motor multifungsi hingga kendaraan yang sifatnya personal. Bagaimana dengan bemo? Tua, kusam, dan meraung-raung di jalanan. Bemo tertinggal zaman.

Itulah mayoritas sekolah Katolik pada hari ini. Sekolah Katolik bangga dengan masa lalu. Lupa berbenah untuk menyambut aneka perubahan. Sekolah Katolik tergagap-gagap untuk bersaing dengan sekolah lainnya, tak peduli dengan yang negeri ataupun swasta. Sekolah Katolik bukan sekolah “kaum elit” seperti dulu, menjadi rujukan utama para penguasa, pengusaha, ekspatriat, duta besar negara sahabat, dan kaum elit lainnya. Pun sekolah Katolik bukan menjadi rujukan “kaum bawah” seperti didengung-dengungkan ajaran Gereja “option for the poor”. Kaum ini memilih sekolah negeri yang dari sisi kurikulum sama dengan sekolah Katolik dan gratis. Alhasil sekolah Katolik menjadi medioker.

Melejitkan kembali sekolah Katolik bukan perkara mudah. Namun bukan pula pekerjaan yang mustahil. Kedigdayaan masa lalu menjadi bekal nan melimpah. Plus pandangan umum yang menancap kuat bahwa sekolah Katolik unggul dalam pembentukan karakter para murid, menjadi modal utama untuk bergerak maju. Hanya diperlukan perubahan pola pikir dari para pemangku kepentingan sekolah Katolik, baik itu dari sisi hierarki maupun awam. Pernyataan yang menyebut bahwa tugas Gereja untuk mencerdaskan bangsa sudah selesai karena peran pemerintah sudah optimal, sehingga Gereja tidak perlu lagi memperkuat sekolah Katolik, layak dihentikan. Ini tak lebih pola pikir orang kalah ketimbang menjawab tantangan zaman.

Enam Bidang
Sudara bersama Vox Institute, kelompok pelaku dan pemerhati politik Katolik lintas partai, mendesain gagasan besar untuk melejitkan kembali sekolah Katolik. Untuk melejitkan kembali sekolah Katolik perlu dibentuk lembaga baru berbadan hukum. Lembaga ini bisa di bawah koordinasi Konferensi Waligereja Indonesia atau Keuskupan seperti selama ini sudah terjadi. Bisa pula berdiri sendiri. Tugas dari lembaga ini (untuk memudahkan disebut saja Lembaga Sekolah Katolik /LSK) mengawal enam bidang besar.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*