Artikel Terbaru

Merindukan Kebahagiaan Kekal

[heavenlyascents.com]
Merindukan Kebahagiaan Kekal
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSetiap kali menjelang bulan arwah (November), saya merasa diteguhkan lagi oleh ajaran tentang hal-hal terakhir. Sepanjang tahun, setiap kali saya mengalami kesulitan dan tantangan hidup, saya dikuatkan dengan mengingat kebahagiaan yang akan disediakan Allah di surga kelak. Apakah sikap saya ini bisa dibenarkan? Apa peran Kristus dan juga Gereja dalam hal-hal akhir ini?

Dominikus Lintang, Malang

Pertama, syukur kepada Allah bahwa janji Allah akan kebahagiaan kekal bisa menjadi peneguhan bagi Anda dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Inilah iman yang memberi kekuatan untuk hidup di dunia ini. Jika hanya melihat sikap ini, tidak ada yang salah dengan sikap ini. Tetapi perlu melihat secara lebih menyeluruh, apakah sikap ini membuat Anda terfokus secara eksklusif hanya pada dunia seberang (mencari pahala surgawi) dan melupakan implikasi iman ini pada tanggung jawab atas hal-hal duniawi saat ini. Sikap yang eksklusif melihat dunia akhirat dan mandul dalam implikasinya di dunia ini telah melahirkan tuduhan Karl Marx bahwa agama adalah opium (candu) bagi masyarakat. Marx melihat bahwa janji akan surga adalah sejenis hiburan yang menyejukkan yang menjauhkan manusia dari perjuangan untuk mengubah ketidakberesan (tantangan dan kesulitan hidup) yang dihadapi manusia di dunia ini.

Kedua, bulan arwah (November) memang mengajak kita merenungkan hal-hal terakhir, yaitu kematian, penghakiman, surga dan neraka, dengan konsekuensi praktis kita diajak untuk mendoakan para arwah di api penyucian. Tuduhan Karl Marx ikut andil dalam menyadarkan Gereja bahwa hal-hal terakhir itu seharusnya tidak hanya dibahas oleh Gereja sebagai akhir dari perjalanan tahun liturgi Gereja, tetapi juga telah dijadikan perspektif bagi seluruh perjalanan Gereja. Lumen Gentium bab VII, berbicara tentang Gereja sebagai Umat Allah yang sedang berziarah, dan bahkan Gaudium et Spes melihat implikasi iman kita akan hidup kekal dalam kaitan dengan hidup sekarang, dalam kenyataan sekuler dan dalam kebersamaan kita di dunia ini. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa ini menyatakan, “Janganlah karena mendambakan dunia baru orang lalu menjadi lemah perhatiannya untuk mengolah dunia ini. Justru harus tumbuhlah perhatian itu sehingga berkembanglah Tubuh keluarga manusia yang baru, yang sudah mampu memberikan suatu bayangan tentang zaman baru” (GS 39). Sebagai perspektif, teologi tentang hal-hal terakhir (eskatologi) mewarnai setiap tahap hidup dan refleksi Gereja, dan bukan hanya pada perwujudan akhir Gereja.

Ketiga, dengan menjadikan hal-hal terakhir sebagai perspektif, peran Kristus dan Gereja menjadi sangat penting. Apapun yang kita ketahui tentang hal-hal akhir, kita ketahui dalam dan melalui apa yang terjadi pada Yesus dalam kematian dan kebangkitan- Nya. Kristus yang bangkit menjadi sebab maupun model hidup kita di akhirat. Sifat sentral Kristus nampak tidak hanya pada kebangkitan orang mati, tetapi juga dalam pemenuhan terakhir segala sesuatu yang ada. Pada saat Kristus datang untuk kedua kalinya, orang-orang mati akan bangkit, penghakiman terakhir akan dilaksanakan, seluruh tatanan ciptaan akan diperbarui dan Kristus akan menyerahkan kerajaan-Nya kepada Bapa-Nya supaya Allah menjadi “segalanya dalam semuanya” (1 Kor 15:28).

Sejak kenaikan Kristus sampai kedatanganNya kembali dalam kemuliaan, Gereja adalah umat peziarah yang hidup dalam pengharapan dengan menanggapi pemberian diri Allah sendiri. Adalah tugas Gereja untuk mengubah realitas sekuler ini, dalam kuasa dan dengan bimbingan Roh Kudus, agar semakin sesuai dengan ajaran Kristus sehingga pada akhirnya semakin menyerupai Kerajaan Allah. Keberadaan Gereja, yang mewujudkan Kristus yang bangkit, merupakan antisipasi dan pencecapan kehidupan kekal yang dijanjikan. Maka kepercayaan akan hidup surgawi tidak dipandang sebagai opium yang meredakan kegelisahan-kegelisahan eksistensial atau sebagai pelarian tanggungjawab dalam dunia saat ini.

RP Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 44 Tanggal 2 November 2014

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*