Artikel Terbaru

Kami Dijodohkan Orangtua

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang budiman, saya pemuda berusia 29 tahun. Saat ini saya mengalami dilema karena harus patuh dengan keluarga atau pilihan sendiri. Karena ikatan keluarga karib, saya dijodohkan dengan teman masa remaja. Relasi keluarga kami sangat akrab. Mungkin karena itu, saya dan dia akhirnya akrab. Keluarga kami sepakat akan menikahkan kami usai kuliah. Tapi beberapa tahun terakhir, saya punya banyak teman. Pergaulan itu membuat saya sadar, saya tak benar-benar mencintai dia yang dijodohkan dengan saya. Saya mencintai orang lain. Dia pun demikian. Kami sudah bicara dan sepakat jika selesai kuliah, kami akan bicara dengan keluarga. Kami tak mau dijodohkan. Namun mamanya sakit-sakitan. Kami tak tega, jika bicara ini akan mendatangkan malapetaka dan kericuhan hubungan keluarga kami. Mohon pencerahannya.

Julio Mendrova, Kebon Jeruk.

Beberapa dekade lalu, banyak keluarga menjodohkan anak untuk menjaga “hubungan baik”, “mengamankan” kekayaan atau perusahaan agar tak jatuh ke tangan lain. Perjodohan juga digunakan untuk menaikkan status keluarga. Strategi itu dipakai pula sebagai balas budi atau membayar hutang.

Kisah Siti Nurbaya pada zaman dulu, ternyata masih terjadi pada abad ini. Era menjodohkan atau dijodohkan mestinya tak terjadi lagi pada masa yang amat terbuka ini. Saat ini orang berinteraksi dengan ratusan bahkan ribuan orang, baik secara langsung maupun melalui dunia maya. Kini, orang dapat menyampaikan, melihat, bahkan mengerti apa yang dilakukan oleh orang lain, terlepas apakah hal yang dilakukannya itu adalah jujur atau bohong.

Mereka juga dapat memilah dan memilih apa yang dilakukannya, termasuk dengan siapa dia ingin menjalin hubungan pertemanan, bahkan mulai untuk membidik jodohnya. Orangtuamu dan sang gadis tampaknya mengabaikan perkembangan zaman. Tak dipungkiri orangtua kalian masih menganggap anak harus mengikuti kehendak orangtua. Mereka mengabaikan anak-anaknya berteman dengan banyak orang dan punya hak untuk menentukan pilihannya sendiri.

Kamu dan sang gadis harus punya keberanian dan kemampuan untuk berdialog dengan orangtua masing-masing tentang situasi yang terjadi sekarang. Dengan dialog terbuka diharapkan orangtua bisa memahami situasi dan relasi kalian. Sampaikanlah kepada orangtua, kalian sudah berusaha untuk saling mengenal lebih jauh, tapi kenyataannya kalian punya pilihan dan jatuh cinta kepada yang lain. Kalian tak bermaksud melawan orangtua, tapi berusaha menunjukkan kenyataan bahwa cinta tak dapat dipaksakan.

Setelah orangtua memahami, kamu bisa meminta mereka untuk menyampaikan situasi sebenarnya kepada orangtua si gadis. Hal berikut yang bisa dilakukan adalah berunding dengan si gadis untuk mencari jalan keluar terbaik. Perhatikan situasi keluarganya, terutama ibunda si gadis yang sedang sakit. Seorang ibu bagaimana pun juga harus dihormati dan dicintai. Apa pun yang kita miliki seandainya kita persembahkan kepadanya, takkan pernah cukup membalas jasa ibu.

Diskusikanlah dengan si gadis strategi jitu untuk menyampaikan kejadian sesungguhnya kepada ibunya. Tentu gadis itu sebagai anak lebih mengenal dengan baik karakter dan kondisi ibu serta keluarganya.

Langkah ketiga adalah mencari key person (paman atau kerabat) yang dekat dengan keluarga, dipercaya oleh orangtua, sekaligus yang kamu percayai. Sampaikan kepadanya situasi kalian. Mintalah tolong kepadanya untuk menyampaikan hal itu kepada orangtua dan keluargamu. Bila diperlukan, kamu juga dapat mendampingi key person itu saat berdialog dengan orangtua.

Sampaikan strategi ini kepada si gadis agar ia melakukan hal serupa. Langkah ini bertujuan agar masalah dapat diselesaikan dua arah sehingga diharapkan lebih efektif. Langkah terakhir yang tak boleh dilewatkan adalah memohon kepada Tuhan, dengan kekuatan dan kuasa-Nya persoalan yang kalian hadapi bisa selesai dengan baik. Semoga.

Y. Bagus Wismanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 15 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*