Artikel Terbaru

Mengenali Tetangga

HIDUPKATOLIK.com – Penulis sepakat dengan sinyalemen banyak pihak akhir-akhir ini, mengatakan bahwa kesatuan dan persatuan kita tengah diuji. Pelarangan penggunaan atribut agama, penyebutan kafir secara menyakitkan, khotbah yang menista agama, hingga terorisme berlatar belakang keagamaan, adalah beberapa gejala yang banyak dikhawatirkan sebagai indikasi melemahnya kesatuan di negeri ini.

Agak jauh ke belakang, kita juga melihat demonstrasi besar yang terjadi pada November dan Desember 2016. Kedua demo yang dikenal sebagai demo 4-11 dan 2-1-2 itu, nampaknya memperlihatkan wajah Islam yang resah (karena kasus penistaan Ahok) dan sekaligus kurang bersahabat. Melihat siapa penggagasnya, maka kita pun mafhum bahwa demo tersebut kurang lebih sejalan dengan menguatnya faham-faham tertentu dalam Islam yang kemudian melahirkan perilaku intoleran, bahkan radikal terhadap sesama tetangganya.

Penulis mempergunakan istilah “tetangga” karena pada dasarnya itulah realita kita hidup di negara ini. Dalam konteks kemasyarakatan, masyarakat Indonesia dianugerahi situasi perbedaan yang luar biasa. Ada yang berbasis suku, etnis, ras, agama hingga perbedaan pandangan politik. Hal-hal tersebut kemudian kita sebut dengan variabel primordial. Mengapa disebut demikian? karena berkaca dari terminologinya, merupakan variabel yang paling tua, bisa juga disebut awal dari kemanusiaan itu sendiri.

Karena tidak ada orang yang lahir tanpa kesukuan, keetnisan, dan seterusnya, hal mana variabel-variabel itu tidak mungkin diubah atau berubah pula, maka pemahaman bahwa kita bertetangga membuat banyak urusan jadi mudah. Sudah sewajarnya apabila ada perbedaan antarorang bertetangga. Tetapi perbedaan itu yang membuat orang-orang bertetangga saling menghormati dan sekaligus saling membutuhkan.

Kembali pada sinyalemen tersebut, banyak orang Nasrani menjadi resah, bahkan takut melihat perilaku (sebagian) orang Islam tersebut. Kata-kata seperti, “Kok mereka tega berbuat begitu” atau “Orang Islam sekarang sudah berubah dibanding dulu”, kerap kita temui. Menyusul perasaan resah dan takut tersebut, berbagai kalkulasi pun mulai dilakukan, misal dalam bentuk menyekolahkan anak ke luar negeri, atau bahkan pindah ke luar negeri sekalian.

Bersama ini penulis mengajak kembali pada hakikat “tetangga”. Sudah menjadi hal yang jamak bagi kita untuk mengunjungi tetangga yang sedang kesusahan. Apabila ada tetangga yang sakit, mengalami kedukaan, wajib bagi kita untuk mengunjungi. Kalaupun tidak bisa meringankan beban, minimal kita bisa turut berbagi perasaan dengan tetangga.

Melalui respons terkait kasus Ahok, dua demo besar, aksi teror berlatar belakang keagamaan, serta perilaku sekalangan umat Islam akhir-akhir ini, sebenarnya tetangga kita itu tengah membuka semua pintu dan jendelanya. Kita bisa melihat dan memahami apa yang terjadi di dalam. Suka atau tidak suka, kita harus hidup dengan tetangga seperti itu. Walaupun pahit menerima kenyataan bahwa tetangga kita ternyata judes atau galak luar biasa. Lebih baik kita mengetahui hal itu agar kita tidak salah bertindak.

Gampangnya, minimal ada tiga langkah yang bisa kita lakukan menghadapi tetangga jenis ini. Pertama, kita mengubah diri. Kedua, kita minta tetangga kita berubah. Ketiga, kita menyesuaikan diri dengan karakter dan situasi tetangga kita.

Terkait yang pertama, kelihatannya tidak terlalu mudah kita mengubah diri. Tidak mudah bagi kebanyakan orang Nasrani untuk, katakanlah, pindah ke luar negeri misalnya. Demikian pula, misal untuk pindah ke wilayah Nusantara yang mayoritas Nasrani.

Terkait yang kedua juga mustahil dilakukan. Bukankah tetangga kita memang sedang banyak masalah? Maka yang nampaknya paling realistik untuk dilakukan adalah yang ketiga, yakni melakukan langkah-langkah penyesuaian diri, biasa disebut coping mechanism, dalam rangka berhadapan dengan tetangga kita.

Sebenarnya langkah penyesuaian itu bukan tidak dilakukan oleh banyak kalangan Nasrani. Membiasakan diri mendengar suara adzan dari loudspeaker adalah salah satu contoh. Namun kelihatannya sebagaimana telah kita saksikan sendiri akhir-akhir ini, dunia Islam Indonesia memang tengah berubah sehingga membutuhkan penyesuaian diri kita yang jauh lebih banyak lagi.

Adrianus Meliala

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 15 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*