Artikel Terbaru

Mgr Julianus Kema Sunarka SJ: Kesahajaan Hidup Pengelola Mamon

Mgr Julianus Kema Sunarka SJ
[HIDUP/Sutriyono]

HIDUPKATOLIK.comBaju pemberian umat ia bagikan kepada yang membutuhkan. Ia membubarkan satu lembaga milik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) lantaran tak becus soal keuangan.

Suatu malam, Uskup Purwokerto, Mgr Julianus Kema Sunarka SJ naik kereta dari Jakarta pulang ke Purwokerto. Sampai di Stasiun Purwokerto, Mgr Narka memilih naik becak menuju ke Wisma Keuskupan Purwokerto. Jarak dari stasiun ke wisma keuskupan sekitar 1,5 kilometer. Kadang Mgr Narka menempuh jarak itu dengan berjalan kaki. Tapi pada malam itu, ia memilih naik becak.

Begitu keluar dari halaman wisma keuskupan, roman sang tukang becak yang mengantar Mgr Narka berseri. Kepada penjual majalah di dekat Gereja Katedral Kristus Raja, tukang becak itu memuji penumpang yang diantarnya. “Bapak tadi baik sekali,” puji si tukang becak. “Saya dibayar dan dikasih beberapa baju baru,” lanjutnya.

Baju yang diberikan Mgr Narka kepada tukang becak merupakan hadiah dari umat di Jakarta. Bukan sekali itu saja ia memberikan hadiah yang ia terima dari umat. Seorang penjaga malam di wisma keuskupan pernah membawa pulang jas baru dari Mgr Narka. Bahkan adakalanya ketika Natal dan Paskah, Mgr Narka membawa baju dalam tas besar. Baju-baju itu dibagikannya kepada umat Stasi.

Baju Safari
Lantas apa yang Mgr Narka kenakan dalam keseharian, terutama pada acara tertentu? Pakaian sekadarnya. Bahkan sesekali orang melihat gaya busananya “keterlaluan”. Misalnya ketika menjadi tuan rumah pertemuan para Uskup Regio Jawa di Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, Mgr Narka mengenakan baju model safari berwarna kelabu, yang biasa dikenakan guru-guru zaman dulu.

Baju itu ia kenakan hampir selama pertemuan, yang berlangsung lebih dari dua hari, tanpa ganti. Sebagai Jesuit, Mgr Narka amat kuat dalam menghayati kaul kemiskinan, terutama dalam melepas kenikmatan materi.

Tahun lalu, setelah sebulan di rawat di Jakarta karena masalah di bagian hati dan otak, Mgr Narka hendak pulang ke wisma. Menyambut kepulangannya, para kolega menyiapkan kamar khusus di lantai satu agar Mgr Narka tak repot naik turun tangga. Selama ini tempat tidur Mgr Narka di lantai dua. Uskup kelahiran Sleman, Yogyakarta, 25 Desember 1941 itu menolak perlakuan khusus. Ia tetap memilih tidur di kamarnya semula.

Usai menerima tahbisan imam dari Uskup Agung Semarang kala itu, Kardinal Justinus Darmojuwono, pada 3 Desember 1975, Romo Narka ditugaskan di Paroki St Martinus Weleri, Kendal, Jawa Tengah. Dua tahun berkarya di sana (1976-1977), selanjutnya ia menjalani sejumlah perutusan, antara lain sebagai Sekretaris dan Ekonom Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada 1978-1984.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*