Artikel Terbaru

Suami Selingkuh

HIDUPKATOLIK.comRomo, perkenalkan, nama saya Lawrence, umur 27 tahun. Sekitar 21 bulan lalu, saya menikah dengan orang Malaysia berumur 40 tahun. Sampai saat ini, kami belum dikaruniai anak. Untuk menyambung hidup, kami berdua bekerja di pulau Maldives. Beberapa waktu lalu, kami mengalami masalah finansial. Sayangnya, suami malah ketahuan selingkuh dengan teman sekantor asal Filipina. Saya marah dan kecewa. Ia lalu minta maaf dan ingin memperbaiki diri.
 
Saya sendiri juga pernah selingkuh dengan suami orang. Waktu itu, saya bertobat dan kembali rukun dengan suami. Namun, menghadapi masalah ini, suami saya malah menganggap saya terlalu dominan atau “take control”, mudah marah, dan mau menang sendiri.
 
Untuk menghindari perselingkuhan, saya sudah meminta suami untuk berhenti bekerja. Tapi ia tidak mau. Bahkan akhir-akhir ini, pasangan selingkuhnya sudah terlambat menstruasi selama dua bulan dan ingin mengaborsi janin yang dikandungnya. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, saya diminta pulang ke Indonesia. Kini, saya takut jika selingkuhannya tersebut hamil karena ulah suami saya.
 
Apakah saya harus mengalah agar suami bisa bertanggung jawab? Bagaimana dengan perkawinan kami yang sakramen? Saya ingin hidup lebih baik. Saya juga masih muda dan belum punya anak. Apa yang harus saya perbuat?
 
Lawrence – Jakarta
 
Saudari Lawrence yang sedang bingung, apakah Anda berpacaran dalam waktu yang cukup panjang? Masa pacaran yang panjang mempersiapkan kita untuk mengenal pasangan, supaya tidak kaget menghadapi sifat-sifat asli pasangan kita kelak setelah menjadi suami atau istri. Apakah sebelumnya Anda tahu bahwa pasangan Anda memiliki tipe kepribadian seperti itu? Misalnya, apakah dia mempunyai banyak hubungan, kurang setia, atau belum yakin dengan Anda?
 
Persoalan selingkuh bukan awal dari masalah. Biasanya, masalah diawali dengan komunikasi yang kurang baik. Dapat juga diawali dengan harapan yang tidak cocok, misalnya menginginkan anak, ingin istri ramah, dll. Yang seperti ini tidak bisa dideteksi jika Anda tidak berbicara lebih panjang.
 
Bagi seorang Katolik, permohonan maaf harus ditanggapi secara positif. Bukan hanya karena pasanganmu baru meminta maaf untuk pertama kali, tetapi karena memang pernikahan harus dipertahankan meskipun menghadapi tantangan ketidaksetiaan. Jangan biarkan suami jatuh dengan meninggalkannya, tetapi berikanlah perhatian yang lebih dengan cinta dan pengertian, supaya dia merasa diterima dan tidak selalu merasa dituduh atau dihakimi.
 
Situasi suami Anda sedang sulit, apalagi berkaitan dengan kemungkinan kehamilan pasangannya. Jangan ambil jalur hukuman, tetapi mulailah dengan mengasihi. Kalau pasanganmu masih mau memperbaiki, berusahalah untuk membantu. Tetapi saya percaya, hanya Anda, yang mampu melihat apa yang sebenarnya diinginkan pasangan Anda dalam persoalan ini.
 
Jika Anda mengatakan bahwa Anda layak mendapatkan yang lebih baik dari dia, Anda salah mempersepsikan cinta kasih. Persoalan ini pasti berat untuk Anda, tetapi di sini juga cinta kasih itu diuji. Jangan berpikiran langsung untuk berpisah atau bercerai. Berilah kesempatan sambil menyelesaikan masalah suami yang mau bertanggung jawab atas tindakannya itu. Ini saatnya Anda mempraktikkan cinta kasih sakramental.
 
Untuk membantu pasangan Anda, yang tentu saja harus bertanggung jawab, itu soal lain. Jangan dukung aborsi, karena itu adalah dosa besar. Peliharalah janin dan bantu perempuan itu mencari pertolongan sampai melahirkan. Jika berat, suamimulah yang harus melakukannya, dengan cara apa saja, kecuali menikahinya.
 
Belum punya anak tidak berarti bahwa Anda dengan mudah boleh bercerai. Perceraian tidak bisa dilakukan karena alasan kemandulan atau belum punya anak, tetapi karena sebab lain yang menggagalkan sebelum pernikahan dimulai. Anda dan suami perlu bicara lebih banyak dengan dasar pengertian dan penerimaan atas kesalahan masa lalunya. Inilah yang disebut salib. Bukan Anda yang membuat, bukan gara-gara Anda, tetapi Anda perlu menerimanya. Semoga setelah ini, suami segera sadar dan tidak mengulanginya lagi.
 
Alexander Erwin Santoso MSF
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 42 Tanggal 19 Oktober 2014

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*