Artikel Terbaru

Evangelisasi Dua Dunia

Evangelisasi Dua Dunia
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sadar atau tidak, kata ketekis mengarahkan opini khalayak kepada mereka yang bertugas di kampung-kampung atau pedalaman. Bayangan yang menyertai kata katekis adalah mereka yang rela berjalan kaki puluhan kilometer, siang dan malam, hingga ke pedalaman Kalimantan atau Papua untuk memimpin ibadat. Pokoknya, katekis identik dengan medan berat dan tugas non profit.

Bayangan ini tak sepenuhnya salah. Tapi bila diinderai dengan kacamata modern, tugas mewartakan Injil tidak melulu mengayunkan langkah ke kampung dan pedalaman untuk berkatekese. Paus Yohanes Paulus II, dalam Anjuran Apostolik Cathecesi Tradendae (CT), mendefinisikan katekese sebagai kegiatan membina anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT art. 28).

Pada zaman ini, kita percaya bahwa dunia yang tertera di depan mata ada dua, yakni dunia nyata dan dunia maya. Di dunia nyata, bayangan tugas katekese seperti tadi tepat sasar, yaitu tugas evangelisasi via perjumpaan langsung. Ada jarak yang ditempuh, dan waktu yang dialokasikan, dan ada tenaga yang dikeluarkan. Perjumpaan langsung itu wajib karena keterbatasan komunikasi dan akses informasi.

Namun, bagaimana dengan dunia maya? Bila Gereja yakin bahwa evangelisasi juga menjamah “penduduk” dunia maya, maka mesti disiapkan katekis-katekis maya yang saban waktu mengalokasikan tenaga dan pikiran untuk datang “mengunjungi” para penghuni dunia maya itu.

Di era millennia, bisa jadi jarak tempuh tak lagi terkalkulasi dan jumlah pendengar tak lagi terkategorisasi. Sebab Gereja mengajarkan, “evangelisasi berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru: Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru (Why 21:5)” (Evangelii Nuntiandi, No. 18).

Dengan demikian, Gereja mesti menyiapkan amunisi-amunisi baru untuk memasuki dunia maya itu guna mengenalkan kasih Kristus. Kegiatan katekis tak lagi identik dengan persiapan tenaga dan waktu untuk menempuh perjalanan jauh, tetapi penguasaan teknologi dan gaya komunikasi modern agar pewartaan Injil tepat guna. Hendaknya, Gereja tidak lagi bersikap pasif dan hemat dengan hanya mengandalkan sarana dan prasarana yang ada. Gereja harus siap berinvestasi dengan memfasilitasi para katekis untuk memasuki dunia maya, area pewartaan berbasis teknologi.

Sebab, berapa pun biayanya, Gereja harus membuka mata untuk memandang mereka yang eksis di dunia maya sebagai umat-Nya yang perlu diterangi jalannya. Mereka juga ingin sama-sama berjalan ke arah cahaya Kebenaran. Sembari pula Gereja tetap mengingat bahwa katekis dunia nyata perlu diperhatikan kesejahteraannya dan difasilitasi perjalanannya. Hal ini supaya tugas pewartaan tak buntung akomodasi. Pada akhirnya, yang dipilih dan bersedia menyampaikan Kabar Baik tidak hanya terhibur oleh kekayaan imajiner, tapi berkecukupan dalam kebutuhan primer. Gereja mesti serius menjamin keamanan dan kenyamanan para pewartanya, sehingga ia layak menjadi rujukan bagi lembaga-lembaga keagamaan lain bagaimana merangkul dan merawat kaki, tangan, dan lidahnya.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 8 Tanggal 19 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*