Artikel Terbaru

Kaum Muda yang Profesional

Patrick Waluyo dan Merry Riana.
[NN/Dok.Pribadi]
Kaum Muda yang Profesional
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Orang-orang seusia saya dibesarkan dalam sebuah rezim yang disebut Orde Baru. Kami hidup dalam suasana serba seragam. Ideologi, pilihan politik, sistem pendidikan hingga bacaan di media massa, semua mengacu pada penguasa. Kebebasan berekspresi – baik melalui tulisan maupun pertunjukan – semua harus selaras dengan koridor yang ditetapkan penguasa. Melawan hal seperti itu bisa berakibat panjang. Aparatus negara dengan sigap akan menciduk orang-orang yang berani mengkritik penguasa.

Kondisi yang serba terbatas untuk berekspresi tersebut justru melahirkan orang-orang yang layak menjadi idola kami. Khususnya idola tersebut bermain pada ranah olah-raga tepok bulu, alias badminton. Dari para idola tersebut tersua nama Rudy Hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Icuk Sugiarto, Iie Sumirat, Ardi B Wiranata, Alan Budi Kusuma, Ivana Lie, Ferawati Fadjrin, hingga Susi Susanti.

Para idola tersebut sungguh fenomenal dalam mengharumkan bangsa. Gaya hidup mereka yang sederhana, kerja keras, spartan dan disiplin tinggi, mengilhami kami untuk seperti mereka. Alhasil di pojok-pojok kampung selalu terdapat lapangan bulutangkis yang ramai dijadikan latihan atau pertandingan antar warga. Bulutangkis menjadi gaya hidup kami. Lapangan bulutangkis menjadi tempat paling demokratis bagi warga untuk berkumpul.

Zaman berubah dan rezim Orde Baru gulung tikar. Muncullah rezim lebih baru, katakanlah bernama Orde Reformasi. Orde Reformasi ini kebalikan dari Orde Baru. Jika Orde Baru serba seragam, maka Orde Reformasi serba bebas. Jika dulu mengkritik penguasa bisa berakibat fatal, hari ini tidak sekadar mengkritik, memaki-maki penguasa menjadi hal yang biasa.

Kini haru-biru politik memakan kue paling besar dari isu-isu yang beredar di masyarakat. Pada titik ini justru terjadi kemunduran bagi kaum muda masa kini untuk mencari tokoh yang layak dijadikan idola. Banyak kaum muda terjun pada ranah politik. Mereka ini mayoritas man tan aktivis mahasiswa yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Mereka mempunyai idealisme nan bulat. Berbasis pada latar belakang ini, harapan tinggi disematkan pada mereka.

Sayang harapan tetap hanya tinggal harapan. Mereka yang diharapkan menjadi macan politik nan trengginas, telah kehilangan giginya. Mereka sekadar mengaum, hanya suara berisik yang terdengar. Mereka mencengkeram dengan kuat, sayang yang dicengkeram adalah proyek-proyek pemerintah yang rawan penyelewengan. Bahkan lantaran kecerdasan mereka lebih baik dibanding para generasi tua, kecakapan mereka dalam menggarong uang negara jauh lebih piawai, rapi dan sistematis.

Mereka berlari kencang dan melompat melewati batas-batas teritori negara atas nama studi banding. Namun yang dibawa pulang justru baju Armani, celana Ermenegildo Zegna, parfum Kalvin Klein dan tas Hermes, yang menunjukkan mereka tak kalah hedonisnya dibanding rombongan generasi tua.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*