Artikel Terbaru

Lihat dan Bertindaklah

Theodorus Wiryawan.
[HIDUP/A. Aditya Mahendra]
Lihat dan Bertindaklah
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comDibutuhkan generasi muda yang peduli dan belarasa terhadap kondisi social ekonomi sesama. Keluarga berperan penting dalam usaha ini.

Ada dua sikap orang dalam menyikapi perkembangan ekonomi Indonesia. Dua sikap itu adalah “wait and see” dimana orang hanya melihat perekonomian Indonesia dan menunggu, dan “See and Act” yaitu untuk memulai ekonomi menjadi lebih baik lagi dengan langsung bertindak bukan lagi menunggu.

“See and Act” ini sedang berkembang baik di dalam maupun di luar Indonesia sehingga banyak orang muda yang menjalankannya,” kata Theodorus Wiryawan ketika ditemui HIDUP Selasa, 15/12. Wiryawan adalah pendiri Lembaga Konsultan Bisnis dan Pemasaran, WYR Solution.

“See and Act”, lanjut Wiryawan mampu menumbuhkan cara pandang yang berbeda dalam diri orang muda saat ini. “Banyak orang terjebak dalam pemahaman tentang “harga” dan “nilai”. Dalam hidup sehari-hari kita ditawari dengan “harga”, kamu kerja dimana, kamu naik mobil apa, posisimu apa, gajimu berapa. Ini semua “harga” dan orang suka melihat “harga,” tutur pria kelahiran Jakarta, 6 April 1962 ini.

Wiryawan melanjutkan, nilai seperti semangat, kesetiakawanan, komitmen, visi, empati kadang hilang, padahal ini merupakan sesuatu yang perlu dianut orang muda. Banyak orang sering dikacaukan antara “harga” dan “nilai” ini. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, tergantung seseorang dididik dan lingkungan dimana orang tinggal.

Menurut Chief Marketing Officer PT. Asuransi CIGNA (2010-2012) ini semangat muda untuk membantu sesama dalam pemberdayaan sosial memang sangat jarang tetapi ada. Untuk membentuk generasi semacam ini tidaklah mudah. Pembentukan ini diperoleh dengan melihat lingkungan luar diri sendiri, di luar keluarga, di lingkungan teman sehingga value atau nilai bisa tumbuh dengan cepat. Banyaknya orang yang melihat perekonomian Indonesia hanya sebatas“wait and see” walaupun masih ada beberapa kaum muda yang menyimpan semangat “see and act”.

Kesalahan memandang perekonomian yang membuat orang sulit dalam menata ekonomi keluarga ini memunculkan beberapa sikap selalu menyalahkan orang lain, “Salah sendiri kenapa ga kerja, salah sendiri kenapa males, pokoknya mereka menyalahkan orang”. Namun tidak semua seperti itu, banyak juga muncul sikap simpatik. Kemudian, muncul sikap empati yaitu ikut merasakan kesulitan yang dialami orang lain dan turut bertindak untuk mengubah keadaan tersebut.

Menurut Wiryawan, sikap yang dimunculkan beberapa kaum muda yang kisahnya diangkat HIDUP sudah sampai pada tahapan empati dan berbelarasa. Sikap berbelarasa ini bisa di ibaratkan dengan kepedulian seorang anak kepada temannya yang mengalami sakit kanker dan sedang menjalani kemoterapi. Anak itu kemudian mencukur rambutnya sampai “botak” untuk menemani temannya yang “botak” karena sedang menjalani kemoterapi. “Belarasa yang dirasakan bukan hanya untuk dirasakan tapi juga harus diimbangi dengan tindakan agar maksud dan tujuan hati tercapai,” kata alumnus Seminari Petrus Canisius Mertoyudan ini.

Saat ini sulit untuk menemukan generasi muda yang memiliki jiwa belarasa. Belarasa dalam diri orang muda saat ini tertutup lantaran banyak dari mereka sibuk dengan diri sendiri. Mereka tidak melihat kesulitan dan kesusahan orang-orang di sekitarnya.

Membentuk dan mengembangkan orang muda agar memiliki sikap peduli kepada sesamanya harus diawali dari keluarga. Dengan kepedulian ini orang muda akan tergerak untuk terlibat dalam memajukan kaum tidak mampu “Diharapkan dalam pendampingan keluarga orang muda dapat memiliki sikap belarasa dan tidak memegang prinsip “wait and see” melainkan “see and act”. Tantangan dan perubahan dunia saat ini sangat berbeda dan cepat jika dibandingkan dengan dahulu,” pungkas Wiryawan.

A. Aditya Mahendra

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 1 Tanggal 3 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*