Artikel Terbaru

OMK dan Politik

Franciscus Xaverius Seda.
[HIDUP/Agus Y. Ranu]
OMK dan Politik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comOrang muda Katolik, OMK, menjadi fokus perhatian dan perbincangan akhir-akhir ini terutama terkait dengan harapan, kalaupun bukan tuntutan, atas perlunya keterlibatan umat Katolik dalam proses memajukan dan memakmurkan masyarakat bangsa Indonesia. Terkesan ada semacam kerinduan di kalangan umat Katolik atas peran-peran penting dalam merawat dan memajukan Indonesia sebagai rumah besar warga nusantara yang pernah dimainkan oleh tokoh-tokoh seperti I.J. Kasimo, Frans Seda, Harry Tjan Silalahi, Ben Mboi, P. Krissantono, dan sebagainya.

Kurang lebih lima belas tahun pasca-reformasi, keterlibatan umat Katolik dalam politik Indonesia melahirkan tidak banyak orang-orang Katolik dalam posisi jabatan publik di pemerintahan pada tingkat daerah maupun tingkat nasional. Di DPR RI, misalnya, terdapat hanya 20-an anggota DPR Katolik (dari 560 anggota DPR) sepanjang masa reformasi. Dalam pemerintahan di Propinsi maupun Kabupaten/Kota, belum tampil kepemimpinan orang Katolik yang menjadi contoh dan inspirasi untuk kepemimpinan daerah yang berintegritas, memajukan dan melayani masyarakat secara bertanggungjawab.

Selama itu pula, Politik Indonesia telah dikelola secara makin maju dan terbuka. Secara horisontal, kekuasaan politik (pemerintahan) disebar sedemikian rupa sehingga tidak terdapat lagi dominasi kekuasaan oleh satu badan pemerintahan atas badan-badan pemerintahan lainnya. Secara vertikal, kekuasaan politik dibagi berjenjang, mulai dari tingkat nasional, propinsi, dan kabupaten/ kota, dengan mengimplementasi kebijakan desentralisasi untuk otonomi daerah. Bahkan sekarang ini telah diselenggarakan kebijakan otonomi desa.

Inheren dan bersama dalam proses reformasi kekuasaan politik itu, kini semua pengisian jabatan publik terbuka untuk diraih secara kompetitif (demokratis) melalui pelibatan warga negara secara langsung maupun tidak langsung, pada tingkatan nasional, daerah dan desa.

Gerak politik memang tidak senantiasa linear, lurus dan maju; selalu saja ada kepentingan sempit dan berjangka pendek yang memotongnya. Sayangnya, mereka yang seharusnya menjaga gerak maju politik itu terpelihara tidak bisa diandalkan, dan malahan terjebak dalam jual beli harkat demi mendapatkan kenikmatan diri sendiri dan sesaat.

Itulah tantangan Indonesia dewasa ini dan untuk masa-masa mendatang. Memelihara dan mengembangan tata kelola politik dan pemerintahan yang makin terus maju dan beradab jelas menuntut pelibatan semua warga negara tanpa kecuali. Sebagai bagian dari Indonesia, Gereja Katolik tidak bisa lepas dari bukan saja kepedulian tetapi juga pelibatannya dalam turut serta menyelesaikan permasalahan itu demi merawat dan membangun Indonesia.

Dalam konteks dan pemahaman substansiil seperti itu, OMK membawa peran penting. Mereka adalah representasi masa depan Gereja Indonesia dalam pelibatan dan kontribusi langsungnya bagi usaha bersama seluruh warga bangsa untuk makin memajukan dan memakmurkan Indonesia. Di hadapan OMK terhampar dan terbuka peluang untuk meraih jabatan-jabatan publik sebagai sarana strategis mewujudkan “karya-karya penebusan Allah,” seperti dicontohkan Yesus Kristus pada masa-Nya, untuk Indonesia yang makin memenuhi cita-cita kemerdekaannya.

OMK tidak harus menggapai jabatan-jabatan publik itu sekarang ini. Memang belum waktunya. Tetapi jika diyakini peluang itu sebagai tantangan,dan lebih-lebih panggilan sebagai orang Katolik, OMK perlu mulai peduli atas berbagai ragam masalah yang ada dalam jabatan-jabatan publik itu tetapi juga terutama mempersiapkan diri dengan melengkapi pengetahuan, memupuk keahlian dan mengembangkan kompentensi yang diperlukan bagi penyelenggaraan jabatan-jabatan itu secara berintegritas.

Sebagai orang muda, dalam diri OMK terpantul semangat, kreativitas dan pembaruan, serta pengembangan diri. OMK harus dan perlu melengkapi pengembangan diri ini secara paripurna. Sebagai orang Katolik, OMK mestinya senantiasa memperteguh keyakinan untuk mengikuti jalan Yesus Kristus dalam terang Allah mewujudkan bonum commune atau kebajikan bersama. Dan sebagai bagian dari Indonesia, OMK mengemban tanggungjawab yang sama dengan warga negara lainnya untuk merawat, memajukan dan memakmurkan Indonesia.

Itulah pelibatan OMK dalam politik: mempersiapkan diri untuk pada saatnya menyatakan kehadiran Gereja Katolik dalam keikutsertaannya secara nyata memajukan dan memakmurkan Indonesia. Dari ajaran dan inspirasi Yesus Kristus, OMK mengelola kegiatan yang melengkapi pengetahuan, mengembangkan kompentensi dan memperkokoh integritas untuk mempersiapkan diri bukan hanya berkompetisi meraih berbagai jabatan publik, tetapi juga saat terpilih, menjalankan jabatan-jabatan itu secara bertanggungjawab.

Dalam perspektif itu, dan jika program-program kegiatan pengembangan kapasitas, kompetensi, dan integritas OMK dapat digalang secara sistematik dengan dukungan sumber daya yang memadai dari hirarki Gereja Katolik, bukan mustahil peran-peran penting pada tataran nasional dan daerah akan ditampilkan oleh orang-orang Katolik yang profesional, kompeten dan berintegritas dalam turut serta mewujudkan Indonesia sebagai rumah besar seluruh warga nusantara yang makmur dan berkeadilan sosial.

Tommi A Legowo
Pendiri dan Peneliti Senior FORMAPPI

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 1 Tanggal 3 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*