Artikel Terbaru

Onte, Si Penyelamat Hutan dari Kendari

Silverius Oscar Unggul alias Onte.
[NN/telapak.org]
Onte, Si Penyelamat Hutan dari Kendari
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPerjuangan melawan pembalakan liar di hutan Indonesia mesti berkesinambungan, sampai masyarakat sendiri yang mengatakan tidak kepada “ilegal logging”. Itulah yang memotivasi Onte yang mengadvokasi masyarakat agar menjaga hutan.

Pria ini seorang pendaki gunung. Ketika tiba di kaki gunung atau setelah kembali dari puncak sebuah gunung, ia biasa bermalam di rumah penduduk. Pada saat-saat seperti itu, penduduk biasa menyuguhkan aneka makanan hasil bumi lereng gunung. Ada umbi-umbian, ikan, sayur mayur, dan lain-lain. Kalau memiliki lauk hasil buruan di hutan pasti disuguhkan pula. Pokoknya urusan perut pasti terjamin.

Namun, kisah pendaki gunung bersama penduduk itu berubah sejak akhir 1990-an. “Kami tidak lagi bisa menikmati makanan enak. Malah kalau hujan lebat kerap terjadi banjir. Aktivitas berburu sudah jarang dilakukan penduduk, karena tidak ada lagi binatang buruan di hutan. Masyarakat yang ramah mulai berubah,” kata Onte berkisah. Pria ini memang kerap disapa Onte, singkatan dari “Orang Entete” (Orang NTT,red.). Nama sebenarnya Silverius Oscar Unggul. Onte berdarah Flores, Nusa Tenggara Timur, tapi lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Onte bercerita, perubahan sikap ramah penduduk kaki gunung menimbulkan kecamuk dalam benaknya. Mengapa sikap masyarakat berubah? Selisik punya selisik, salah satu musabab adalah kerusakan hutan. Ilegal logging yang marak jauh sebelumnya, akibatnya kini mulai terasa.

Menatap kenyataan ini, Onte bersama delapan rekannya menyadari perlu ada tindakan yang diambil untuk membantu masyarakat dan menyelamatkan hutan. “Supaya tidak hanya jalan-jalan saja saat mendaki gunung, kami sertakan satu kegiatan lagi. Kami foto semua kerusakan hutan yang kami temukan dan mencari informasi pelakunya. Hasil pencarian itu akan kami sebarkan ke media,” ujar Onte saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat tiga pekan lalu.

Tapi niat baik tak selalu berujung manis. Tak ada media yang mau mempublikasikan hasil temuan mereka. Usai merampungkan kuliah pada 1998, bersama delapan rekan yang memiliki hobi mendaki gunung, Onte mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat Yayasan Cinta Alam (Yascita). Ia bermimpi, melalui lembaga ini mereka bisa mewujudkan cita-cita membantu masyarakat mengembalikan hutan yang kian kritis. Gerakan penyelamatan hutan dimulai dari tempat ia tinggal, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Bibir kesetrum
Agar cita-cita itu kian terdengar di telinga masyarakat, ia membuat radio. “Ini modal nekat,” ujarnya sambil tertawa. Mengapa? Karena ia tidak punya modal. Dudukan mixer dibuat dari kayu triplek, mikropon hanya satu. Kalau siaran, antara bibir dengan mikropon harus diberi jarak, karena jika terlalu dekat, bisa-bisa bibir terkena setrum listrik. Antena sebagai pemancar diikat di atas pohon mangga. Semua dibuat apa adanya, yang penting bisa siaran. Radio rakitan itu diberi nama Swara Alam. Radio resmi beroperasi pada 2000. “Tapi di Kendari masyarakat sering menyebutnya ‘suara ayam’. Mungkin karena kalau siaran, semua suara di sekitar rumah seperti ayam, angin, bahkan gemercik hujan bisa ikut terekam. Tapi kami senang-senang saja. Yang penting masyarakat dengar dan informasi sampai,” tutur Onte. Fokus Swara Alam adalah menyiarkan berita seputar kerusakan hutan akibat pembalakan liar dan mengajak masyarakat turut serta menjaga hutan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*