Artikel Terbaru

Geluti dan Gumuli Budaya Literasi

Peserta rapat pimpinan Sekretariat Bersama (SEKSAMA) Penerbit-penerbit Katolik Indonesia, medio November 2016.
[NN/Dok.SEKSAMA]
Geluti dan Gumuli Budaya Literasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDi tengah gempuran dunia digital dan rendahnya minat baca, para penerbit Katolik berjibaku mengkampanyekan budaya literasi. Sembari membangun budaya literasi, mereka pun beradaptasi dengan dunia digital.

Problem lemahnya literasi seolah menyeruak di tengah rapat pimpinan Sekretariat Bersama (SEKSAMA) Penerbit-penerbit Katolik Indonesia pada medio November 2016. Isu ini bertambah seksi kala data berbicara. Berdasarkan studi “Most Littered Nation in the World” yang dilakukan Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Peringkat itu hanya satu klik di atas juru kunci yang diduduki Botswana, sebuah negara miskin di Afrika.

Hasil survei UNESCO pun menyatakan, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang yang punya minat baca di antara seribu orang. Boleh dibilang, masyarakat lebih suka membaca status Facebook (FB), BlackBerry Messenger, dan aneka media sosial lainnya. Mereka lebih suka menikmati
tayangan sepak bola dan infotainment. Hal ini berbanding terbalik dengan pengguna internet di Indonesia, yakni 88,1 juta dari 250 juta penduduk.

“Bangsa ini sebenarnya mengalami sebuah loncatan mahadahsyat. Sebelum mencintai buku, orang sudah disuguhi televisi dan aneka hiburan audio-visual lain. Padahal, televisi dan sejenisnya sangat kurang menumbuhkan daya imajinasi jika dibandingkan dengan buku,” jelas Direktur Penerbit Nusa Indah Ende, Nusa Tenggara Timur, Romo Hendrik Kerans SVD.

Tantangan SEKSAMA
Menurut Romo Hendrik, rendahnya minat baca menjadi tantangan terbesar para penerbit Katolik. Hal ini bukan saja menjadi persoalan Gereja Katolik, tapi juga problem besar bangsa Indonesia. Data UNESCO sebenarnya mengafirmasi penemuan data Badan Pusat Statistik tahun 2012, yang menyatakan 91,67 persen penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun lebih suka menonton televisi daripada membaca buku, koran atau majalah.

Menurut survei Nielsen Consummer & Media View (CMV) 2016, media yang dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah televisi 95 persen, internet 33 persen, radio 20 persen, surat kabar 12 persen, tabloid enam persen, dan majalah lima persen. Pada 2011, rata-rata orang Indonesia menghabiskan 4,5 jam setiap hari menonton televisi. Lalu 2014, waktu menonton televisi menjadi lima jam sehari.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*