Artikel Terbaru

Khawatir Tak Punya Pacar

Khawatir Tak Punya Pacar
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSalam jumpa Romo. Saya perempuan berusia 25 tahun. Usia saya sebenarnya cukup untuk menikah. Saya sangat khawatir karena sejak SMA tak berani punya pacar yang serius. Semasa SMA saya pernah melakukan hubungan intim dengan teman sekelas yang adalah pacar saya. Saya sangat berdosa dan takut hamil. Meskipun tak hamil, tetapi sejak saat itu saya tak mau berbuat terlalu jauh dengan laki-laki. Sudah enam tahun saya khawatir tak bisa punya pacar. Menurut saya laki-laki banyak memanfaatkan pacarnya untuk memenuhi nafsu. Apakah Romo ada saran untuk saya?

Monica, Tangerang

Monica yang baik, saya bangga dengan penyesalan dan pertobatanmu. Suatu kebaikan bermula dari perasaan bertobat dan jera, supaya hidup dapat diperbaiki ke arah yang lebih berkenan kepada Tuhan.

Melakukan perbuatan terlarang sebelum menikah adalah suatu dosa. Setiap orang sebelum menikah tak punya hak untuk melakukan hubungan badan dengan pacarnya, meskipun sudah sangat dekat. Kedekatan dengan pacar seharusnya menjadi saat untuk lebih mengenal latar belakang, perilaku, motivasi pacaran, dan kecocokan kedua belah pihak. Pacaran yang dinodai oleh hubungan seksual adalah pengabaian kepentingan pasangan karena biasanya pelaku tak siap untuk menanggung konsekuensi dari perbuatannya.

Saya bersyukur kamu sungguh menyesal atas perbuatanmu dan tak mengulangi lagi. Ini suatu pertobatan sejati yang disukai Tuhan. Penyesalan selalu baik, tetapi bukanlah suatu penghindaran. Apa yang sekarang kamu lakukan adalah suatu penghindaran karena takut kejadian yang sama terulang.

Jangan takut memulai suatu relasi dengan pria baru. Kamu perlu belajar dari masa lalu ketika sesuatu terjadi di luar kendali dan menyesal sesudahnya. Orang cerdas pasti tak menghindar, melainkan lebih berpengalaman untuk membebaskan diri dari tindakan salah yang pernah dibuatnya.

Tak semua laki-laki akan mengarah pada hubungan seksual, meskipun akhir-akhir ini godaan itu menjadi sangat meningkat. Saya berharap dengan kendali diri, kamu, sebagai pihak perempuan mampu membuat masa pacaran kalian menjadi sehat dan suci. Jika ternyata nafsu dan tindakan itu lahir dari dirimu sendiri, maka kamu perlu berjuang untuk mengendalikan diri dan menjauhkan masa depanmu dari kerugian karena sembrono. Jangan mendekati godaan, meskipun godaan akan tetap ada di sekitarmu.

Jika kamu takut berpacaran, apa penyebab utamanya? Apakah kamu takut pengalaman terulang? Atau kamu malu karena merasa tak “perawan” lagi? Kedua perasaan itu biasa terjadi, dan menurut saya ini normal. Justru jika tak merasa takut dan malu, itulah sikap abnormal yang akan semakin menjerumuskan kita pada kesalahan yang makin mendalam.

Saya usul, kamu memulai tahap pacaran seperti teman-teman. Jatuh cinta pasti akan bersentuhan dengan perasaan nafsu, tetapi tak harus jatuh pada hubungan yang berisiko buruk dan merugikan masa depanmu.

Carilah pacar yang seiman. Carilah pacar yang menurutmu beriman baik supaya kalian menempatkan diri secara wajar dalam berpacaran. Berdoalah senantiasa, bersyukurlah kepada Tuhan, dan bertahanlah dalam perbuatan baik. Semoga apa yang kamu khawatirkan tak terjadi lagi sehingga Tuhan boleh semakin memberkati hidup dan relasi-relasimu. Jangan takut dengan usia supaya kamu juga dapat bertingkah proporsional. Jangan seolaholah “kurang laku” lalu, maaf, jadi sembarangan atau “asal-asalan” dalam mencari pacar.

Saya dan para pembaca akan berdoa untuk kamu dan teman-teman lain yang mempunyai pengalaman yang sama. Jangan takut akan hari esok karena hari esok mempunyai kesulitannya sendiri (bdk. Mat 6:34). Hadapi masa depan dengan tabah hati. Katakan kepada diri sendiri, “Bersama Tuhan aku bisa melakukan hal-hal besar.” Sesudah itu lakukan apa yang kamu percayai benar. Buktikan dan jangan pernah balik ke masa lalu lagi. Semoga Tuhan memberkati hidupmu.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 22 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*