Artikel Terbaru

Br Kristoforus Pudiharjo OFM: Bruder Penggiat Pertanian Organik

Br Kristoforus Pudiharjo OFM
[A. Sudarmanto]
Br Kristoforus Pudiharjo OFM: Bruder Penggiat Pertanian Organik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comOrang menganggap pertanian organik itu kuno, padahal sesungguhnya ia adalah pertanian masa depan. Demikian ditegaskan Br Pudi. Kemana pun bermisi, ia membawa penyadaran arti penting pertanian organik.

Lima tahun terakhir, Br Kristoforus Pudiharjo OFM berkarya dalam bidang pertanian organik dan hidroponik di tanah seluas tiga hektar di kawasan Ciloto, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebelum itu, Br Pudi menanam aneka tanaman organik dan hidroponik di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tanah yang dulu hanya semak-semak, ia olah. Ia juga membuat pupuk kompos.

Menurut dia, banyak petani yang mau membuka lahan pertanian merasa perlu uang sebagai modal. Padahal, dengkul itu sendiri adalah modal. “Saya datang bermodalkan Rp 300.000. Memanfaatkan bahan-bahan yang ada untuk dijadikan kompos,” ungkap Br Pudi.

Kurang Pengetahuan
Br Pudi tinggal di Panti Asuhan St Yusup Sindanglaya, Cipanas, Jawa Barat. Sekitar 200 anak terlantar menghuni panti ini. Saban hari, Br Pudi mengajak anak-anak panti mengumpulkan sisa makanan. Hasilnya, sehari mereka bisa mengumpulkan sekitar 20 kilogram sisa makanan yang kemudian diolah menjadi pupuk.

Kebiasaan ini, kata Br Pudi, membuat anak-anak menjadi kreatif. “Kalau orang punya kebiasaan membuang, lama-lama ia tidak punya apa-apa. Sebaliknya, kebiasaan mengumpulkan, lama-lama menjadi kaya,” ungkapnya.

Br Pudi melihat, masyarakat masih kurang pengetahuan dalam mengelola lahan. Karena itu, lulusan Jurusan Komunikasi, Universitas Nasional Jakarta ini, menularkan didikan untuk anak-anak panti kepada masyarakat sekitar. Ia secara sukarela membagi pengetahuan kepada siapa saja yang datang. “Tidak dipungut biaya, hanya jika menginap, bawa makanan sendiri,” katanya.

Sebelum Br Pudi hadir di Ciloto, pekerjaan masyarakat sekitar berkutat pada usaha warung sembako atau asongan yang menggantungkan rejeki pada kemacetan arus lalu lintas Jakarta-Puncak. Kawasan Puncak yang terkenal subur justru tidak diolah oleh masyarakat setempat. Hal ini, lanjut Br Pudi, karena masyarakat kurang pengetahuan tentang bertani. Kini ada sekitar 12 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari perkebunan organik yang dikelola Br Pudi. Tokoh masyarakat dan kepala desa setempat bersyukur atas kehadiran Br Pudi yang memberi pemberdayaan kepada masyarakat.

Kebun organik Br Pudi menjelma menjadi semacam sekolah pertanian. Setiap orang bebas datang menggali ilmu. Agus, seorang pekerja kebun misalnya, ia bekerja sambil belajar cara bertani organik. “Saya hanya sementara ikut Br Pudi. Bila ada modal untuk membeli lahan, saya akan buka perkebunan organik sendiri,” ujarnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*