Artikel Terbaru

Beato Francisco Gárate Aranguren SJ (1857-1929): Bruder Penjaga Pintu

Beato Francisco Gárate Aranguren SJ.
[universityofdeusto.com]
Beato Francisco Gárate Aranguren SJ (1857-1929): Bruder Penjaga Pintu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSelama 41 tahun ia setia menjalani tugas sebagai penjaga pintu universitas. Selama itu, doa dan matiraga menjadi santapan hariannya. Kesetiaan dan kesucian hidupnya menjadikan dirinya pintu untuk datang kepada Yesus.

Bekerja itu suci. Demikian tulisan di depan pintu kamar seorang penjaga pintu Universitas Deusto, Bilbao, Spanyol. Tulisan itu dibuat oleh seorang bruder tua yang ditugaskan sebagai penjaga pintu sekaligus penerima tamu di Universitas Deusto. Tugasnya sederhana; menerima dan melayani setiap tamu yang datang ke Universitas milik Serikat Yesus (Societas Iesu/SJ) itu.

Pelayanannya ini membuat para mahasiswa memanggilnya, Padré Guardián Perenne, ‘Bapa Penjaga Pintu Abadi’. Selain melayani mahasiswa dan tamu, bruder ini juga senang membantu orangtua bila anaknya mengalami kesulitan dalam belajar. Cara dan nasihat-nasihatnya membuat banyak orang mencintainya. Dengan nasihat sederhana, banyak mahasiswa mendapat energi baru untuk segera menyelesaikan studi mereka.

Satu prinsip yang ia ajarkan kepada mereka adalah makna kesucian dalam bekerja. “Bekerja itu suci karena mendekatkan manusia kepada Tuhan. Bekerja itu bermanfaat bagi sesama karena mengubah dunia menjadi tempat hidup yang lebih baik. Bekerja itu berdaya guna karena mengubah keterbatasan menjadi sikap untuk berjuang secara maksimal,” demikian salah satu nasihat Bruder Francisco Gárate SJ.

Mukjizat Ekaristi
Francisco adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia lahir dari keluarga petani miskin di Desa Recarte, Azpeitia, Spanyol, pada 3 Februari 1857. Azpeitia adalah kota yang berdekatan dengan wilayah Basque. Kota ini sangat terkenal karena tempat lahir dua tokoh ternama, yaitu pendiri Serikat Yesus, St Ignatius Loyola (1491-1556) dan komposer kelas dunia, Juan de Anchieta (1462-1523). Kota ini tak pernah sepi peziarah. Tiap tahun, ribuan orang berziarah ke petilasan St Ignatius yang hingga kini masih ada di Azpeitia.

Selain masyhur karena dua nama besar itu, masyarakat Azpeitia dikenal sebagai umat Katolik saleh. Dalam kultur kesalehan inilah Francisco tumbuh. Keluarga Gárate tak pernah melupakan kebiasaan harian untuk mengikuti Ekaristi di Basilika Loyola, yang berdekatan dengan rumah St Ignatius. Bapak dan ibunya, Francisco dan Maria Aranguren pelan-pelan menjelaskan tentang peran utama imam saat memimpin Ekaristi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*