Artikel Terbaru

Hoax

Hoax
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Urusan penyebaran berita yang tidak jelas asal-muasalnya ataupun kebenarannya bukan barang baru. Sejak lama kita telah mengenal istilah “Chinese whispers”, yaitu permainan membisikkan satu kalimat secara berantai kepada sederetan orang, yang biasanya berakhir dengan perubahan drastis pada pesan yang dibisikkan ketika sampai pada orang terakhir. Istilah ini mungkin dipakai karena bahasa Tionghoa sendiri di telinga orang luar terdengar sebagai bunyi-bunyi yang tak dapat dipahami artinya.

Yang berbeda adalah mediumnya. Hoax hanya eksis dan secara signifikan memengaruhi opini orang tentang suatu perkara akibat jasa teknologi informasi dan komunikasi dalam wujud gawai pintar yang nyaris tak terpisahkan dari hidup kita. Jangan lupa bahwa Yesus sendiri bisa dianggap sebagai korban “hoax” dari masa prateknologi, yakni ketika kebohongan tentang diri-Nya disebarluaskan oleh para pimpinan agamaYahudi.

Hoax menyebar dengan cepat dan pengguna gawai pintar yang daya kritisnya telah dikuasai oleh gawai di tangannya tanpa pikir panjang akan meneruskan rantai penyebarannya ke sebanyak mungkin orang. Tentu saja, tidak semua hoax merugikan atau destruktif. Namun, sumbernya mustahil dapat diketahui atau kita tidak terlalu peduli untuk mencari tahu, karena kita saling berlomba menjadi yang terlebih dulu meneruskan hoax tersebut ke orang lain.

Ada rasa bangga atau puas tersendiri saat kita menjadi orang pertama yang meneruskan sebuah hoax, kerapkali tanpa kita sendiri sadari bahwa itu adalah hoax. Yang penting ada kandungan sensasi, sifat dramatis, dan gagasan yang sepintas terkesan sangat faktual atau rasional. Apalagi jika lalu para penerima hoax itu terpengaruh dan memberi tanggapan. Entah itu dengan emotikon jempol, dengan mengklik “like”, atau emotikon tepuk tangan, atau bahkan dengan komentar mengamini.

Jika betul bahwa teknologi informasi dan komunikasi telah menghasilkan sebentuk “komunitas” baru berbasis virtual, maka hoax dapat dianggap sebagai ancaman bagi keberlanjutan dan kohesi komunitas ini. Yang khas dari komunitas maya adalah para anggotanya bebas memakai identitas palsu. Kepalsuan identitas membuat mereka tak bisa dituntut mempertanggungjawabkan pernyataannya, pun tak bisa dituntut untuk selalu terlibat dalam interaksi dengan sesama warga komunitas secara konsisten, dan tak diperlukan tatap muka untuk saling berdialog.

Ini semua tidak membuat komunitas maya menjadi lemah. Buktinya, lewat Facebook dan Twitter orang mampu menggalang dukungan untuk suatu tujuan. Revolusi di Timur Tengah yang disebut Arab Spring dan menyebabkan runtuhnya sejumlah rezim berkuasa di kawasan itu belum lama berselang hanya mungkin terjadi dengan bantuan teknologi pintar sebagai medium penyebarannya. Di Indonesia, dukungan pengumpulan koin untuk Prita yang  dianggap telah dizolimi oleh sebuah rumah sakit sangat efektif hasilnya, walau sebagian besar penyumbang tidak mengenal Prita secara pribadi. Demikian pula penggalangan dukungan buat Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) dalam kasus pertikaian antara “cicak” versus “buaya” beberapa tahun silam.

Hoax bisa merongrong kohesi sosial sebuah komunitas virtual yang dibangun lewat medium teknologi. Warga komunitas yang tak saling mengenal itu rentan terhadap adu domba, polarisasi, dan pecah belah. Rasa tanggung jawab yang kurang terhadap keberlangsungan komunitas juga membuat orang mudah melempar isu atau hoax tanpa merasa wajib mengecek dulu kebenarannya.

Jika tidak bijaksana dan awas, kita bisa “menyalibkan” banyak orang tak berdosa lewat penyebaran hoax yang memelintir fakta atau tak bisa dipertanggungjawabkan sumbernya. Tanpa disadari, kita menjelma menjadi orang Farisi yang membuat seorang penjahat bebas dari hukuman dan orang tak bersalah menjadi pesakitan.

Manneke Budiman

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 22 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*