Artikel Terbaru

Sebelum Berkat Imam

Sebelum Berkat Imam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Merayakan Ekaristi penuh makna, bila setiap bagian dilaksanakan dengan baik, benar, dan indah. Ada dua bagian penting dalam Ekaristi, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Bacaan Injil merupakan puncak Liturgi Sabda. Selain itu, Homili mendapat perhatian utama dalam Liturgi Sabda. Dalam Liturgi Ekaristi, Doa Syukur Agung merupakan “pusat dan puncak seluruh perayaan” (Pedoman Umum Misale Romawi/PUMR, No.78). Namun demikian, Ritus Pembuka pun penting untuk mempersatukan dan mempersiapkan umat mendengarkan Sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak.

Demikian pula Ritus Penutup penting pula, ketika umat diutus untuk menghasilkan buah ekaristis dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Jelaslah, semua bagian Ekaristi penting. Maka dari itu, hendaknya dilaksanakan dengan lancar, sambung-menyambung, tidak memerlukan banyak penjelasan, “bersifat user friendly, mudah dilaksanakan, tidak pakai bahasa yang muluk-muluk, atau musik yang sulit-sulit, semua polos dan sederhana” (Tom Jacobs SJ. 2004. Teologi Doa. Yogyakarta: Kanisius, hal. 85).

Beberapa saat sebelum Misa dimulai pun merupakan saat penting bagi umat mempersiapkan diri dalam keheningan dan doa. Doa pribadi akan dipersatukan dengan doa Gereja dalam perayaan Ekaristi. Namun seringkali umat terganggu karena begitu masuk pintu utama, kepada mereka disodorkan amplop-amplop mohon sumbangan dan pelbagai selebaran kegiatan-kegiatan di luar liturgi. Doa dan persiapan pribadi terganggu karena memikirkan berapa duit yang harus disumbangkan dan apakah ada waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Selama Misa, amplop-amplop dan selebaran-selebaran terletak di bangku, di hadapan umat, bisa saja mengganggu konsentrasi.

Dalam Ritus Penutup umat menerima Berkat Imam. Banyak umat memaknai “Berkat Imam” sangat penting. Mereka berdiri, menundukkan kepala, menerima berkat, sambil menyerahkan seluruh hidup mereka ke dalam Kerahiman Allah. Apalagi diberi berkat meriah pada hari-hari raya tertentu. Sambil membuat tanda salib, mereka merasa dikuatkan untuk mewujudkan iman justru dalam kehidupan berkeluarga, yang sering dilanda krisis dan luka-luka perkawinan. Namun, berkat imam itu terganggu justru oleh banyaknya pengumuman sebelumnya. Padahal dalam PUMR ditegaskan, sebelum berkat, dilaksanakan “amanat singkat kalau diperlukan”.

Pengumuman perkawinan itu perlu. Akan tetapi yang lain-lain perlu dipilah secara kritis. Lebih mengganggu lagi setelah pengumuman masih ditambah pemutaran slides atau video dalam rangka mencari dana untuk perkembangan pastoran, rumah biara, sekolah Katolik, dan lain lain. Waktu untuk video dan slides lebih lama dari waktu untuk Doa Syukur Agung. Irama perayaan Ekaristi yang mencapai klimaks dalam Doa Syukur Agung dan Komuni, dan sedang perlahan-lahan antiklimaks justru terpotong, dan terasa hambar. Irama itu terganggu ketika dalam slides ada ajakan untuk mengirimkan dana melalui rekening bank tertentu.

Perayaan sebenarnya “sudah mulai dengan persiapannya dan masih berjalan terus selama dinikmati dalam hati” (Tom Jacobs SJ:2004). Akan tetapi apa yang terjadi? Begitu keluar dari pintu Gereja, umat masih disodori lagi amplop-amplop, kotak sumbangan, penjualan kalender, selebaran-selebaran, dan lain-lain, justru tepat di pintu utama. Hati yang berdoa dan dilimpahi berkat imam pun terganggu lagi.

Umat tidak berkeberatan memberikan sumbangan, bahkan dari kekurangannya. Akan tetapi penghayatan iman Ekaristinya tidak boleh diganggu. Umat tidak melaksanakan upacara liturgi tetapi mereka merayakan Ekaristi. Perayaan Ekaristi bukanlah malam dana, konser dana, dan lain-lain. Ekaristi tidak boleh diselingi dengan kegiatan apapun, bahkan devosional sekalipun, apalagi Ekaristi dimanipulasi secara halus demi kepentingan di luar Ekaristi (SC art.22). Maka kita perlu mencari cara-cara yang pantas dan bermartabat untuk kegiatan pencarian dana.

Nah, harus dibedakan secara tajam, dana dan kolekte. Karena kolekte diadakan dalam Misa saat persiapan persembahan, waktu selingan antara Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Saat itu “diterima juga uang atau bahkan persembahan lain untuk orang miskin atau untuk Gereja” (PUMR No.73).

Jacobus Tarigan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 22 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*