Artikel Terbaru

Semangat Jemaat Perdana

Semangat Jemaat Perdana
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Lima puluh tahun silam, tepatnya pada 17-19 Februari 1967, di Pittsburg, Amerika Serikat, sekelompok mahasiswa Duquesne University mengadakan retret. Kelompok yang aktif dalam kegiatan liturgi, kerohanian, dan kerasulan ini, setahun sebelumnya telah bersepakat saling mendoakan agar dipenuhi Roh Kudus setiap hari dan untuk memacu semangat, serta mengobati kekecewaan karena tak mampu mewartakan Injil seperti jemaat Kristen perdana mereka pun menggelar retret itu.

Retret diawali pujian kepada Roh Kudus. Seusai pujian, diadakan sharing dan doa mohon kedatangan Roh Kudus. Di malam terakhir, mereka dapat berdoa dengan lantang dan merasakan lidahlidah api pencurahan Roh Kudus. Beberapa di antara peserta mulai berbahasa Roh dan berdoa sampai pukul 03.00. Peristiwa ini kemudian diingat sebagai bentuk kehadiran gerakan Pembaruan Karismatik Katolik (PKK).

Gerakan pewartaan Roh Kudus sebenarnya telah muncul pada abad ke-19. Saat itu pendiri suster-suster Oblat Roh Kudus Sr Elena Guerra mengirim surat kepada Paus Leo XIII meminta pembaruan pewartaan tentang Roh Kudus dan merevitalisasi penghormatannya. Seruan itu ditanggapi Paus dengan Surat Apostolik Provida Matris Caritate (PMC) berisi anjuran pengadaan novena Roh Kudus pada hari antara Kenaikan Tuhan dan Pentakosta, serta intensi persatuan umat Kristiani pada 1895. Dua tahun setelah itu, Paus mengeluarkan ensiklik Divinum Illud Munus (DIM) pada 9 Mei 1897 yang meminta umat melaksanakan seruan PMC. Ajakan Paus ini kemudian memulai gerakan pentakostalisme yang malah lebih berkembang di luar Gereja Katolik.

Setelah 70 tahun menanti, gerakan pentakostalisme ini baru menguat kembali dalam Gereja Katolik seusai peristiwa komunitas mahasiswa Duquesne University yang merasakan kehadiran Roh Kudus. Penguatan ini tak lepas dari pengaruh keterbukaan Konsili Vatikan II (1962-1965) yang menjadikan Karismatik sebagai salah satu topik pembicaraan yang sempat memicu protes dari Kardinal Siri asal Italia, “Kalau Roh Kudus diberi kebebasan, nanti Gereja akan kacau.” Mendengar penolakan ini, seorang moderator Karismatik dari Belgia, Kardinal Suenens menegaskan bahwa Gereja akan baik-baik saja dan malah bisa semakin menemukan semangat dasarnya.

Seusai Konsili Vatikan II dan peristiwa di Pistburg, gerakan PKK berkembang ke Australia, Inggris, Irlandia, Meksiko, Brasil, dan Perancis. Pada 1971, Persekutuan Doa (PD) pertama juga diadakan di Universitas Gregoriana Roma. Pada 1972, tercatat pula ada 855 PKK di Amerika Serikat, 65 di Kanada, dan 80 PKK di berbagai negara. Pada 1973, mereka juga bisa menggelar Kongres Internasional pertama di Grottaferrata, Italia. Sedangkan baru pada kongres kedua, tahun 1975, mereka bisa mengadakan di Roma.

PKK hadir di Indonesia pada 1976. Mereka telah mencetak pewarta dan pengajar muda dengan aneka pendampingan, seperti Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) dan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP). Dalam kegiatan, para peserta diajak untuk rajin berdoa, mengembangkan wawasan iman, dan didorong berani mewartakan Injil.

Setelah 50 tahun berjalan, kini semangat para mahasiswa 1967 di Pittsburg untuk mampu mewartakan Injil seperti jemaat Kristen Perdana telah membuahkan hasil lewat kerja PKK. Semoga semangat itu dapat menular lebih banyak lagi kepada umat lainnya.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 5 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*