Artikel Terbaru

Komitmen CICM Membangun KAMS

Silvester Asa CICM.
[HIDUP/Yusti H.Wuarmanuk]
Komitmen CICM Membangun KAMS
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Misi Kongregasi Hati Suci Santa Perawan Maria (Congregatio Immaculata Cordis Mariae/CICM) di Keuskupan Agung Makassar (KAMS) berawal dari dua imam, yaitu Pater Charles Dekkers CICM dan Pater Jan Van den Eerenbeemt CICM. Sebelum kehadiran keduanya, KAMS dilayani imam Serikat Yesuit dan Tarekat MSC. CICM melanjutkan misi dari Tarekat MSC ketika Vikariat Apostolik Celebes menjadi Prefektur Apostolik Makassar pada 13 April 1937. Kemudian, Propaganda Fide mengangkat Mgr Gerardo Martino Uberto Martens CICM menjadi Prefek Apostolik Makassar pertama pada 11 Juni 1937. Mgr Martens tiba di Makassar bersama tiga imam muda, yaitu Pater Chris Eijkemans CICM, Pater Cornelis van der Zant CICM, dan Pater Gerard Menting CICM.

Menurut Provinsial CICM Asia Pastor Silvester Asa CICM, misi CICM kala itu berfokus pada pembangunan kader-kader awam. Pastor Syl mengatakan bahwa corak pastoral seperti ini sesuai dengan kharisma CICM, yaitu bekerjasama dengan Gereja lokal. Maka sejak awal misi, CICM punya komitmen untuk tidak mendirikan seminari untuk CICM. “CICM lebih fokus membina anak-anak lokal yang mau menjadi imam. Setelah itu baru mendirikan seminari untuk CICM,” ungkap Romo Syl.

Komitmen ini terus dipertahankan hingga sekarang. Di KAMS, para imam CICM melayani dua Paroki, yaitu Paroki St Maria Ratu Rosario Kare dan St Paulus Tello. Padahal KAMS pernah memiliki tiga Uskup CICM, yaitu Mgr Martens, Mgr Nicolas Martinus Schneiders CICM (1948-1973) dan Mgr Franciscus van Roessel CICM (1988-1994). “Kami punya misi untuk terus membuka jalan bagi misi Kerajaan Allah,” kata Romo Syl.

Imam kelahiran Besikama, NTT, 30 Desember 1969 ini menambahkan, yang menarik dari misi ini adalah ragam tantangan yang dialami CICM. “Tapi tantangan itu pada akhirnya membentuk khazanah baru dalam bermisi sampai saat ini,” sambung Romo Syl.

Gereja KAMS bisa bertahan karena para misionaris CICM mau bersusah untuk turut merasakan kehidupan masyarakat kecil yang jauh dari Kerajaan Allah. Romo Syl menuturkan, “Kesadaran ini penting untuk Gereja masa kini bahwa Kerajaan Allah ditemukan dalam pengalaman Gereja yang teraniaya dan disakiti.” Kini, para imam CICM asal Indonesia sekitar 50-an. Dalam berkarya, CICM mengedepankan semboyan, “sehati sejiwa,” (Cor Unum et Anima Una).

Yusti H. Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 5 Tanggal 29 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*