Artikel Terbaru

Anak Jadi Bahan Olokan

Anak Jadi Bahan Olokan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh budiman, anak saya kelas 3 SD sering kembali ke rumah sambil menangis. Ia kerap menjadi olok-olokan teman-temannya di sekolah. Bahan perundungan (perlakuan yang mengganggu, mengusik terus-menerus-Red) teman-temannya macam-macam. Saya sudah berulangkali menceritakan ini kepada wali kelas, juga kepada orangtua siswa bersangkutan. Tapi kejadian itu selalu terulang. Bagaimana saya harus bersikap lagi?

Antonius da Silva, Makassar

Bapak Antonius, masalah yang Ba pak hadapi juga banyak dihadapi oleh para orangtua lain. Masalah ini banyak terjadi di sekolah dari dulu sampai sekarang. Bahkan dapat dikatakan di dalam setiap kerumunan atau interaksi sosial saling mengolok akan mungkin terjadi. Tak hanya di lingkungan anak-anak atau remaja, di lingkungan yang lebih tua pun hal itu wajar terjadi, karena merupakan salah satu bentuk interaksi antar manusia. Karena itu, perlu memahami bagaimana olok-olokan itu terjadi dan mengatasinya.

Prinsip yang perlu digunakan adalah lebih mudah mengubah diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengubah orang lain. Seseorang mengolok orang lain dengan tujuan untuk menunjukkan kelemahan atau keburukan orang, sehingga korban merasa rendah diri. Pelaku akan merasa diri lebih unggul ke timbang korban.

Bahan olok-olokan selalu berupa kelemahan, kekurangan, ketidakmampuan, dan keburukan korban. Kelemahan atau kekurangan itu biasanya dari fisik, psikologis, dan kebiasaan. Korban olok-olokan biasanya menimpa orang yang tampak lemah dan tak bisa melawan. Sebab jika calon korban kuat atau mampu melawan, pelaku takut “kalah” dan usaha untuk mendominasi atau mengunggulkan diri gagal.

Jika calon pelaku tak berani melakukan sendirian, ia berusaha untuk mencari teman yang mempunyai keinginan sama dengan dirinya (keroyokan), agar calon korban lebih “tak berdaya” menghadapi aksinya. Dengan memahami pola interaksi pelaku, kita bisa merancang strategi untuk menghadapi atau menaklukan olokan itu.

Pertama, pelajari kelemahan yang dijadikan bahan perundungan. Bahan olokan itu mungkin sering berubah, tapi biasanya punya pola tertentu. Singkirkan atau ubah kelemahan itu, sehingga tak tampak lagi. Dengan demikian, pelaku akan kehilangan bahan untuk mengolok kita. Misal jika anak diolok-olok jorok, maka ubah diri dan penampilan  anak agar terlihat bersih.

Kedua, mengajak anak lebih mengenali diri dan mencari keunggulan atau kebaikan yang ia miliki yang tak dipunyai pelaku. Gunakan keunggulan itu untuk membalas serangan pelaku. Misal jika anak diolok kurus, ajarkan dia untuk membalas dengan mengatakan, “Biar kurus, tapi nilai-nilai saya bagus.” Serangan balik ini mempunyai dua tujuan, mematahkan dominasi atau meruntuhkan harga diri pelaku dan meningkatkan harga diri korban bahwa dia bukan anak yang buruk atau lemah.

Ketiga, mencari keunggulan dan kebaikan pelaku dan menggunakan itu untuk melawan olok-olokan yang di lontarkan. Prinsip strategi ini adalah membalas keburukan dengan kebaikan. Misal dengan mengatakan, “Sebenarnya kamu adalah anak yang murah hati, kalau kamu tidak suka mengolok-olok teman.” Hal ini agar pelaku sadar bahwa dia punya kelebihan atau keunggulan, jadi tak perlu merendahkan orang lain untuk mengunggulkan diri.

Bapak Antonius mungkin perlu lebih bersikap positif dalam hal ini, yaitu gunakan bahan olok-olokan dari orang lain sebagai bahan untuk introspeksi diri agar bisa memperbaiki diri, lebih mengenali diri dan orang lain. Dengan demikian, kita akan bisa mengembangkan diri dan bisa berinteraksi sosial dengan lebih baik.

George Hardjanta

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 5 Tanggal 29 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*