Artikel Terbaru

Anastasia Setyaning Anandiputri Satriyo: Menginspirasi Kaum Muda

Anastasia Setyaning Anandiputri Satriyo.
[HIDUP/Edward Wirawan]
Anastasia Setyaning Anandiputri Satriyo: Menginspirasi Kaum Muda
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengalaman hidup dan kegemaran membaca menjadi pemantik bagi Anas untuk mendalami psikologi. Psikolog klinis anak ini menginspirasi Indonesia melalui buku dan media sosial “TigaGenerasi”.

Anas pulang sekolah dengan murung. Meski memiliki sopir pribadi ia tetap merasa kurang. Di kepalanya, kaya berarti memiliki kolam renang pribadi, tapi Anas tidak memiliki itu. Karena itu, ia kadang merasa tak nyaman di sekolah. Bahkan ketika duduk di bangku SMA, ia sempat home schooling. Orangtuanya menangkap kalut yang memeluk Anas. Secara berkala, mereka mengajak Anas dan kedua adiknya keluar rumah, sekadar berkeliling perkampungan kumuh. Setelah kembali, orangtuanya akan bertanya soal kesan dari perjalanan hari itu.

Cerita belasan tahun silam itu tersimpan dalam ingatan Anas. Pengalaman itu mendorong dia untuk menempuh kuliah Psikologi. “Setelah belajar Psikologi, saya jadi paham maksud orangtua mengajak saya melihat lingkungan sekitar, bahwa di luar sana ada banyak masalah,” kisahnya. “Saya juga suka baca buku psikologi dan semua itu memantapkan saya untuk menjadi psikolog klinis anak,” imbuh pemilik nama lengkap Anastasia Setyaning Anandiputri Satriyo ini.

Kala ditemui di Klinik Perhati di kawasan Pluit, Jakarta Utara, Anas sedang menerima pasien. Ia menyapa ramah anak-anak dan orangtua yang berkonsultasi dengan dia. Selain menjadi psikolog klinis anak, perempuan kelahiran Jakarta, 14 September 1990 ini juga menjadi penulis buku dan dosen. Ia juga kerap diundang menjadi narasumber di beberapa seminar hingga siaran bertema keluarga di layar kaca. “Pada 26 Januari, saya diundang sebuah televisi untuk topik ‘memilih jurusan kuliah bagi lulusan SMA’.”

Salah Kaprah
Anas menilai, banyak orang salah kaprah soal kesehatan mental, seolah-olah itu sebuah dikotomi “sehat” atau “sakit”. Kesehatan mental, lanjutnya, seumpama sebuah spektrum. “Anggap saja seperti spektrum warna dari merah sampai putih, di tengah-tengahnya ada warna merah muda, merah keungu-unguan, merah pink, dan sebagainya. Jadi bukan dikotomi ‘sehat’ atau ‘sakit’, ‘gila’ atau ‘normal’,” tandasnya.

Demikian juga dengan klinik, kehadirannya lebih sebagai tempat orangtua berkonsultasi dan memeriksakan anak. Di klinik, orangtua mendapatkan diagnosa dari kondisi yang dialami anak sehingga bisa menentukan langkah selanjutnya. “Tetapi masih saja ada persepsi, kalau ke klinik maka ia mengalami sakit mental,” ungkap pengagum R.A Kartini ini.

Sebagai seorang psikolog klinis anak, Anas menangani masalah seputar tumbuh kembang anak. Misal keterlambatan bicara, serta masalah-masalah perilaku dan emosi pada anak. Untuk mengetahui masalah yang dialami anak, Anas bertemu dengan orangtua dan guru sekolah agar mendapatkan data yang lengkap seputar riwayat tumbuh kembang anak sejak kehamilan, kelahiran sampai di usia ia datang ke psikolog.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*