Artikel Terbaru

Komunitas Pekerti Kasih: Gerakan Hati Menyapa Sesama

Ibu-ibu mendaur ulang bungkusan kemasan menjadi tas belanja.
[NN/Dok. Pekerti Kasih]
Komunitas Pekerti Kasih: Gerakan Hati Menyapa Sesama
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBanyak cara untuk jadi perpanjangan tangan Tuhan. Komunitas Pekerti Kasih memilih pendidikan sebagai bentuk saluran kasih Tuhan kepada mereka yang lemah.

Di tengah kota Jakarta yang disebut-sebut sebagai kota metropolitan ini, masih ada anak-anak yang duduk dalam kelas belajar tapi pikirannya terbang ke mana-mana. Bukannya menyimak pelajaran di kelas, malah membayangkan, “Nanti jualan koran di mana ya yang enak?” atau “hari ini koran belum habis, gimana ya biar cepat habis?” Anak-anak ini umumnya menyempil di kantong-katong kumuh, di antara gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

Ketimpangan inilah yang memanggil sekolompok orang yang tergabung dalam Komunitas Pekerti Kasih. Komunitas ini merupakan sebuah komunitas pelayanan sosial yang berlokasi di Gedung CM Matraman, Jakarta Timur. Fokus pelayanan Pekerti Kasih adalah mencerdaskan anak bangsa dengan memberikan bantuan pembiayaan untuk pendidikan anak-anak yang tak terjangkau bantuan-bantuan yang sudah ada, seperti Bantuan Operasional Sekolah, Gerakan Ayo Sekolah Ayo Kuliah, dan Kartu Jakarta Pintar.

Ketua Komunitas Pekerti Kasih, Liliana S. Tobias menjelaskan, saat ini Pekerti Kasih membantu biaya pendidikan bagi 38 anak yang sedang menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, 15 anak di sekolah menengah atas, dan lima anak sedang kuliah. “Anak-anak yang kami bantu ini tidak saja berasal dari Jakarta, tetapi juga dari luar Jakarta. Dari kelima anak yang sedang kuliah itu, ada yang kami bantu sejak SMP,” kata Liliana.

Membagi Kasih
Embrio Pekerti Kasih muncul pada 2009. Ketika itu, Sylvia E.W. Sumarlin dan Liliana S. Tobias tak sengaja bertemu. Liliana berkecimpung di salah satu lembaga yang khusus memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak yang kurang mampu. Sementara Sylvia adalah pemerhati lembaga tersebut.

Waktu itu, Liliana sering berbagi cerita kepada Sylvia soal pekerjaan. Masa kerja Liliana di lembaganya mendekati akhir. Ia pun sudah mendengar bahwa lembaga di mana ia bekerja selama ini akan beralih fungsi. Itu yang membuat Liliana gundah. Ia khawatir dengan masa depan anak-anak yang selama ini ditopang oleh lembaganya. Ia yakin, kalau bantuan itu dihentikan, pendidikan anak-anak itu pasti ikut terputus. “Kami sudah berkomitmen untuk menyekolahkan mereka. Kok hanya garagara masa jabatan selesai kami juga berhenti peduli pada anak-anak ini? Kasihan anak-anak dong,” ujar Liliana mengenang pembicaraan dengan Sylvia waktu itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*