Artikel Terbaru

Johannes Haryanto SJ: Menyapa dan Hadir!

Johannes Haryanto SJ.
[NN/Dok.HIDUP]
Johannes Haryanto SJ: Menyapa dan Hadir!
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu” (UUD 1945 pasal 29 ayat 1). Kenyataan membuktikan banyak orang cuek akan nilai toleransi. Beberapa gereja atau paroki mengalami kesulitan untuk merayakan Natal.

Menanggapi hal ini, HIDUP mewawancarai Romo Johannes Haryanto SJ, Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) tentang makna toleransi antar umat beragama pada 16/12, berikut petikannya.

Terkait dengan Natal, banyak umat di beberapa tempat merayakan dengan keterbatasan, tidak punya Gereja. Persoalan dasar yang dihadapi sebenarnya apa?

Sebenarnya Natal adalah impact dari intoleransi. Bisa saja timbul kecemburuan atau tuntutan menghargai yang mayoritas ketika melangsungkan ibadah. Artinya kaum mayoritas tidak puas dengan cara hadir minoritas. Salah satu akar masalah adalah konsep pemikiran tentang tugas pemimpin keagamaan. Misalkan dalam Islam, struktur kepemimpinan bukan hirarki, tetapi Katolik mengenal pola hirarki dalam Gereja sehingga tugas para pastor adalah tugas fungsionaris, sewaktu-waktu mereka dipindahkan lagi meskipun sudah menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Menjadi masalah jika datang pastor baru dengan ide-ide yang eksklusif. Syukur kalau pastor tersebut terbuka pada lingkungan.

Usaha yang bisa dilakukan Gereja?
Salah satu usaha yang bisa dilakukan Gereja adalah melupakan pengalaman-pengalaman pertikaian sebelumnya dan membangun kerjasama yang baik dengan mereka yang berbeda agama dan suku. Terkadang orang Katolik hanya “jago kandang”. Banyak berkoar-koar di dalam Gereja tetapi di luar hanya sebatas keluarga. Juga banyak keluarga terlalu sok sibuk dengan urusan masing-masing. Bangun pagi sampai larut malam di kantor bekerja. Apa yang sebenarnya dicari dari kesibukan itu? Uang atau kekuasaan? Konsekuensinya tidak ada waktu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Berbagai kasus pencekalan Gereja di Keuskupan Agung Jakarta, karena orang Katolik acuh tak acuh dengan lingkungan sekitarnya.

Gereja perlu membangun kerjasama yang baik dengan lingkungan sekitar. Sehingga ketika lingkungan mengalami penindasan dari orang lain, kita bisa hadir dan membantu mereka. Hal yang sama akan terjadi bila kita mengalami kesusahan, mereka akan menjadi promotor yang siap membela kita.

Harapan dan potensi umat Katolik yang bisa disumbangkan untuk membangun kondisi toleransi di Indonesia?

Secara doktrin dan pertimbangan pastoral, Gereja Katolik sudah ada. Misalnya deklarasi Nostra Aetate, dokumen resmi Gereja Katolik yang memandang positif hubungan Gereja Katolik dengan agama dan kepercayaan non Kristen. Ini adalah acuan dan pedoman seluruh umat Katolik dalam membangun peradaban manusia yang didasarkan pada prinsip-prinsip kesederajatan yang saling menghormati.

Dalam konteks ini relasi personal yang baik dengan orang lain sangat dibutuhkan. Di paroki-paroki seharusnya pastor paroki membangun relasi yang komunikatif dengan ketua RT, RW, Lurah bahkan Camat sampai Bupati. Setiap kali ada undangan rapat di kelurahan, jangan pastor paroki mengutus dewan mengikuti rapat. Itu semakin memperkuat dugaan agama lain bahwa banyak pastor tidak suka menyapa orang lain. Gereja Katolik adalah Gereja yang suka menyapa dan hadir dalam situasi dan kondisi umat beragama.

Yusti H. Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 52 Tanggal 27 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*