Artikel Terbaru

Sukacita Natal Tak Pernah Pudar

Sukacita Natal: Umat Paroki St Joannes Baptista Parung merayakan Natal di halaman depan gereja.
[NN/Dok.Pribadi]
Sukacita Natal Tak Pernah Pudar
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Meski tak punya gereja, sukacita Natal tetap dirasakan. Maria dan Yosef juga ditolak ketika mencari tumpangan untuk melahirkan Sang Juru Selamat.

Merayakan Natal berarti merayakan kelahiran Yesus. Karena itu, perayaan kelahiran Kristus harus dilihat sebagai momen di mana Allah ingin menyelamatkan manusia. Dalam masa Natal, manusia diajak untuk berdamai dengan Allah dan sesama. Inilah beberapa refleksi harapan para gembala yang mendampingi umat-Nya dalam situasi tanpa gereja.

Mereka menilai, Natal tak sekadar pesta, melainkan menumbuhkan semangat toleran, inklusif, dan pluralis. Dengan begitu, tak ada lagi kehausan dan kelaparan akan solidaritas antarumat beragama, dialog dan kerjasama. Maka merayakan Natal tanpa gereja pun tetap membahagiakan.

Legalitas Natal
Menyoal hambatan merayakan Natal tanpa gereja, Kepala Paroki St Joannes Baptista Parung, Bogor, Jawa Barat, RD Albertus Simbul Gaib Pratolo mengatakan, hambatan pembangunan Gereja tak seharusnya menjadi alasan orang merayakan Natal dalam kemurungan. Hambatan itu ada karena pertama, masalah yuridis, misalnya status tanah. Kedua, hambatan sosial karena ada keberatan dari masyarakat. Ketiga, hambatan dari oknum pemerintah yang tak bertanggungjawab, seperti FKUB, camat dan lurah. Pun hambatan internal Gereja sendiri seperti konflik dalam tubuh Dewan Paroki dengan PPG atau pastor paroki dan umat.

Oleh karena itu, paroki yang merayakan Natal di bawah “tenda” jangan cepat-cepat menuduh bahwa kelompok tertentu bersikukuh menentang umat Katolik untuk membangun gereja. Sudah barang tentu sikap kekerasan yang ditampilkan oleh sekelompok orang saat Natal yang melanggar prinsip hukum tak bisa di terima dan perlu dikoreksi. Namun, orang Katolik perlu memahami dengan baik duduk perkaranya jangan sampai terjebak. Yang perlu dibuat dalam masa Natal adalah mengenali mereka terlebih dahulu baru merayakan Natal.

Romo Gaib melanjutkan, makna Natal tidak tergantung pada sah tidaknya bangunan gereja, melainkan bagaimana membuka hati untuk berdamai dengan orang lain dan merayakan Natal penuh sukacita. “Jadi Natal tanpa gereja tak bisa diukur dengan penilaian bahwa orang Katolik toleran dan orang Islam tidak toleran, karena Natal adalah kesempatan kita memaafkan,” ujar Romo Gaib.

Hal senada diungkapkan Kepala Paroki St Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang, Keuskupan Agung Medan, Romo Mathias Mangapul Simarmata OCarm. Menurutnya, apapun situasinya, kegembiraan Natal mesti terus ada. Di Paroki Sidikalang, Natal berarti berkumpul bersama saudara dan keluarga. Mereka akan berbagi sukacita bersama dan kesempatan untuk saling menguatkan. Tujuan nya, mempererat persaudaraan yang akan mengalami puncak pada tahun baru, yakni Bona Pasogit, kampung halaman dalam bahasa Batak Toba.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*