Artikel Terbaru

Sukacita Natal Tak Pernah Pudar

Sukacita Natal Tak Pernah Pudar
Mohon Beri Bintang

Blessing in Disguise
Lain halnya di Paroki Damai Kristus, Kampung Duri, Jakarta Barat. Umat melihat berbagai aksi demo sebagai jalan memperdalam iman. Meski awalnya takut karena sering di demo, akhirnya umat merasa seperti tuan rumah yang dengan tangan terbuka siap menyambut para pendemo yang datang. Sebagai tuan rumah yang baik, mereka rela dicaci maki tamu-tamu tak diundang itu. Mereka terlalu banyak membagi kasih kepada tamu-tamu yang kadang tak tahu berterima kasih. Melihat situasi umatnya, Kepala Paroki Kampung Duri, Romo Giovanny Patty MSC, mengatakan, “Ini seperti blessing in disguise.”

Romo Givan merefleksikan, peristiwa pencekalan adalah hal biasa. Bukankah Gereja universal dibangun atas darah para martir? Meski Gereja adalah sarana sukacita, tapi melalui proses penderitaan panjang. Tak dapat dipungkiri hingga kini, Gereja Katolik adalah Gereja yang terus berjuang. Dalam terang ini, Paroki Damai Kristus yang dicekal bukanlah hal baru tapi justru inilah proses pendewasaan dan pemurnian iman. “Pertanyaannya, apakah saya termasuk umat yang setia atau tidak?” katanya.

Karena itu, Romo Givan terus menasihati umatnya agar melihat Yesus yang lahir di malam Natal sebagai Terang Dunia. Gambaran terang menurutnya adalah pancaran sinar yang memberi cahaya dalam kegelapan. Artinya, bukan saja sebuah keindahan tetapi sebuah proses ujian dari Allah. Karena dalam kegelapan, Allah menghendaki manusia menjalaninya dalam kepasrahan total dan tetap teguh ketika dibentuk-Nya, tidak setengah-setengah, apalagi berlari menghindar. “Saya percaya untuk mengalami terang sejati, umat Paroki Damai Kristus terlebih dahulu mengalami gelap. Karena di balik gelap, akan ada terang sejati,” tandasnya.

Dalam bingkai tema Natal, “Hidup Berkeluarga”, Romo Raymundus Sianipar OFMCap, Kepala Paroki St Clara, Bekasi Utara mengatakan, 17 tahun umatnya merindukan bangunan gereja. Tak sedikit pula di antara mereka pergi ke gereja lain saban Minggu. Ia tak kecewa atau marah. Baginya yang terpenting umat masih rindu berkumpul bersama dan mendapat pelayanan sakramen. Meski demikian, Romo Ray mengatakan, bangunan Gereja secara fisik tak menjadi alasan untuk melupakan makna terdalam dari Natal. “Natal sebenarnya tanda kehadiran Allah paling nyata dalam situasi hidup manusia termasuk pengalaman susah,” demikian Romo Ray.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan : Yanuari Marwanto dan Marchella A. Vieba

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 52 Tanggal 27 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*