Artikel Terbaru

Selalu Ada Harapan di Balik Kegelisahan Natal

Meriah: Perayaan Ekaristi umat Paroki Parung.
[NN/Dok.Pribadi]
Selalu Ada Harapan di Balik Kegelisahan Natal
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sejumlah umat merayakan Natal di lapangan terbuka dengan menggelar tikar atau di gereja tenda. Ada paroki yang menitipkan umatnya ke paroki lain.

Umat Stasi St Ambrosius, Mandumpang, Keuskupan Agung Medan tak bisa lagi merayakan Natal di kapel mereka. Sejumlah oknum di Singkil, Aceh, berhasil memaksa pemerintah meluluhlantakkan sejumlah gereja, termasuk kapel yang berada di teritori Paroki St Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang, bulan lalu.

Kapel yang berdiri sejak 1974 itu kini rata dengan tanah. Sekitar tiga hari menjelang Natal, bertahun-tahun lalu, umat selalu berbondong- bondong ke kapel. Mereka bekerja bakti membersihkan kapel, serta menghias bangunan itu dengan pernak-pernik Natal.

Kini, semua tinggal nostalgia. Tak ada lagi kerja bakti. Stasi dengan jumlah umat sekitar 14 kepala keluarga itu harus pergi ke stasi tetangga yaitu Stasi St Dionisius dan Redemptus, Pananggalan, yang berjarak sekitar 20 kilometer bila ingin ikut perayaan Natal.

Ada juga umat yang hijrah ke Stasi St Elias, Penuntungan yang berjarak 40 kilometer. Demi merayakan Natal dan berkumpul bersama keluarga, umat rela menerjang bukit, jalan terjal, licin, dan hujan. “Natal bagi orang Batak berarti mempererat persaudaraan. Jadi, apa pun kondisinya pasti akan dihadapi,” ungkap Kepala Paroki, Romo Mathias Mangapul Simarmata OCarm ketika dihubungi HIDUP melalui telepon, Jumat, 11/12.

Selalu Bersabar
Kejadian serupa dialami umat Stasi Lae Balno. Kapel Stasi juga dirobohkan Pemerintah Singkil. “Hingga kini, pemerintah membiarkan umat Katolik di sana terkatung-katung,” ungkap Kepala Paroki St Mikael, Tumba Jae, Keuskupan Sibolga, Romo Alfons Pandiangan OFMCap.

Sebenarnya, ada tiga stasi di Paroki Tumba Jae yang keberadaannya dipermasalahkan pada November lalu. Naas, Kapel Stasi Lae Balno yang dieksekusi. Sehingga tak ada lagi perayaan Natal di stasi dengan 27 Kepala Keluarga atau sekitar 70 umat. Mereka harus pergi ke Stasi Saragi, yang jaraknya sekitar tujuh kilometer.

Imam kelahiran Sikua, Sumatera Utara, 50 tahun lalu itu amat merasakan kesedihan umatnya. Namun, satu-satunya imam yang berkarya di Paroki Tumba Jae itu meminta umat bersabar. “Saat ini kita sedang ditantang seperti umat perdana dulu. Mereka juga mengalami sakit, tapi ini kesempatan bagi kita untuk mempererat dan memperdalam iman lewat kejadian tersebut,” ungkapnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*