Artikel Terbaru

Selalu Ada Harapan di Balik Kegelisahan Natal

Selalu Ada Harapan di Balik Kegelisahan Natal
1 (20%) 1 vote

Perayaan Natal di tempat terbuka juga dialami umat Paroki St Joannes Baptista Parung, Bogor, Jawa Barat. Setelah penyegelan pada 6 Agustus 2012 oleh lebih dari 60 petugas Satpol PP, Misa tetap digelar di halaman terbuka. Pemerintah Kabupaten Bogor mempersoalkan IMB bangunan yang digunakan untuk ibadah di Parung. Meski dilarang beribadah di bangunan itu, Kepala Paroki Parung, Romo Albertus Simbul Gaib Pratolo tetap menyemangati umatnya dan menggelar tikar, koran dan terpal sebagai alas duduk saat Misa.

Sebenarnya, pelibatan masyarakat sekitar dalam perayaan Natal untuk membantu parkir dan keamanan sudah berjalan baik. Bahkan di Parung pernah terjadi tukar kado Natal bersama masyarakat sekitar. “Masyarakat merasa senang dan ada kerjasama yang baik. Bahkan mereka sendiri menawarkan kerjasama dengan mengamankan kegiatan peribadatan menjelang Paskah dan Natal,” lanjut Romo Gaib, “Habis Misa kami pun bisa minum kopi atau minum teh bersama, sehingga jauh dari kesan percekcokan.”

Berbagi Ruang
Kekurangan tempat juga dirasakan umat Paroki Ratu Rosari Jagakarsa, Jakarta Selatan. Selama ini, Misa digelar di dua tempat, Kapel Desa Putra milik Panti Asuhan Vincentius milik Bruder Kongregasi Budi Mulia dan Kapel Bahtera Kasih milik Marinir, yang di gunakan bersama tiga Gereja Kristen Protestan (GpdI, GBI, HKBP). Tiap tempat memiliki kepanitiaan sendiri di bawah komando Kepala Paroki, Romo F.X. Sutarno MSF.

Menurut Romo Sutarno, tiap Natal, panitia selalu mempertimbangkan anggaran, kebutuhan umat untuk Misa, transportasi umat dan parkiran. Belum lagi bagaimana menyatukan umat yang hingga kini terbagi dalam dua tempat sebagai satu paroki. Pun relasi eksternal dengan masyarakat yang belum bisa menerima kegiatan di tempat itu. Dan tentu saja, berbagi ruang dalam bingkai ekumene dengan saudara Protestan dari tiga Gereja. “Relasi dengan Gereja Protestan menjadi peluang untuk membangun kerjasama. Kita bisa makin mengenal dan lebih dekat sebagai saudara. Tapi kesulitannya, kadang belum ada komitmen dari masing-masing pihak. Artinya, dalam berekumene, kita membutuhkan komitmen”, tandasnya.

Bahkan, umat Paroki Damai Kristus Kampung Duri, Jakarta Barat pun harus berbagi ruang saat merayakan Misa Natal 2007. Mereka meminta izin menggelarnya di Wisma Provinsialat MSC karena didemo. Meski beberapa kali didemo lagi, mereka kini tetap menggelar Misa Natal di lokasi paroki, tidak lagi mengungsi. Demi pengamanan, mereka bekerja sama dengan pihak kepolisian. Umat dianjurkan untuk tidak membawa mobil saat Misa Natal karena terbatasnya lahan.

Yanuari Marwanto/R.B.E. Agung Nugroho
Laporan: Yusti H. Wuarmanuk, Marchella A. Vieba

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 52 Tanggal 27 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*