Artikel Terbaru

Sysilia Tanhati: Ke Kalkuta, Belajar dan Berbagi Kasih

Relawan Kasih: Sysilia Tanhati di Shanti dan, Kalkuta, India.
[NN/Dok.Pribadi]
Sysilia Tanhati: Ke Kalkuta, Belajar dan Berbagi Kasih
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Awalnya semata-mata untuk bepergian, ia justru menjadi relawan di rumah penampungan bagi tunawisma dan kaum difabel di Kalkuta, India. Di rumah yang didirikan Beata Teresa, ia belajar berbagi kasih.

Sysilia Tanhati menyukai perjalanan. Demi hobi itu, ia rela undur diri dari perusahaan di Bandung, dua tahun lalu. Sysilia kemudian menjalankan usaha tas buatan tangan dengan label “Alma Indonesia”. Di sela-sela waktu luangnya, sembari menanti proses produksi tas rampung, sarjana ekonomi itu berkunjung ke berbagai daerah. Ibarat menyelam sambil minum air, Sysilia bisa jalan-jalan sekaligus mencari kain khas daerah untuk bahan dasar produknya.

Suatu hari, pada Januari 2013, Sysilia diajak temannya ke India. Perjalanan itu mengantar perempuan kelahiran Jakarta, 33 tahun lalu itu, ke rumah suster Tarekat Misionaris Cinta Kasih (Missionaries of Charity/ MC). Di Indonesia, komunitas itu terdapat di Weoe, Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Sysilia tertegun mengamati karya suster Cinta Kasih di tengah para tunawisma dan penyandang keterbatasan fisik. Hatinya terketuk untuk ambil bagian dalam karya pelayanan. Ia memutuskan menjadi relawan di tiga rumah pelayanan yang didirikan Beata Teresa, Nirmal Hriday, Daya Dan, dan Shanti Dan.

Ritme Kegiatan
Nirmal Hriday merupakan rumah pertama yang didirikan Bunda Teresa. Rumah itu menjadi tempat bernaung para tunawisma yang sekarat. Di tempat itu, bungsu dari dua bersaudara itu mencuci pakaian, menyuapi, dan menemani penghuni rumah.

Sore hari, Sysilia berkunjung ke Daya Dan. Rumah tersebut dihuni anak-anak berkebutuhan khusus, seperti: penyandang lumpuh otak (cerebral palsy), autis, dan hiperaktif. Di Daya Dan, perempuan yang sempat menjadi relawan bagi korban topan Yolanda di Filipina itu, mengisi sisa hari bersama anak-anak.

“Saya dan seorang teman membawa sekitar empat hingga lima anak ke atap. Kami melatih mereka berjalan. Atau peregangan bagi anak-anak yang berada di kursi roda. Kadang, kami juga membawa anak-anak ke taman atau kolam. Beberapa relawan lain mengajarkan anak-anak bermain musik, pelajaran sekolah, dan menulis,” tutur Sysilia.

Suatu hari banyak relawan datang ke Daya Dan. Sysilia tak tahu harus berbuat apa. Bagian cuci-bilas sudah terisi sejumlah relawan. Ia berkeliling ke kamar para penghuni. Ia bertemu perempuan bernama Khusbu yang menangis sambil memegangi dadanya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*