Artikel Terbaru

Yakobus Satmoko Hardono: Tuhan Mempersiapkan Semua dengan Indah

Sumber Kekuatan: Yakobus Satmoko Hardono (baju putih) bersama keluarga.
[NN/Dok.Pribadi]
Yakobus Satmoko Hardono: Tuhan Mempersiapkan Semua dengan Indah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Berbagai penyakit silih berganti menderanya. Ia pun merasa ajal bakal tiba sehari sesudah Natal tahun lalu. Nyatanya ia mampu bertahan hidup hingga saat ini.

Belikat Yakobus Satmoko Hardono terasa nyeri. Sedangkan lengan kirinya menggeranyam. Ia memeriksakan geringnya itu ke salah satu rumah sakit di Yogyakarta, menjelang Natal tahun lalu. Berdasarkan hasil elektrokardiogram, dokter mendiagnosanya mengalami kelainan jantung.

Satmoko menjalani serangkaian terapi jantung pada hari itu pula. Kembali ke rumah, ia dibekali dengan sejumlah obat. Nasihat dokter ia ikuti. Obat dari RS juga selalu ia konsumsi. Alih-alih sembuh, kondisi pensiunan pegawai PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini anjlok. Satmoko segera dilarikan ke RS, sehari sesudah Natal.

Perih di belikatnya kian menjadi. Satmoko harus menginap di RS yang sama kala berobat dulu. Ia pun menjalani berbagai pemeriksaan, mulai dari fisik, laboratorium, radiologi, sampai Magnetic Resonance Imaging (MRI). Berbagai uji klinis menyatakan, ayah dua anak itu mengidap Hernia Nucleus Pulposus (HNP) Cervical atau saraf leher terjepit.

Bukan Pertama
Bukan kali pertama ini saja Satmoko didera saraf terjepit. Ketika masih menetap di Surabaya dan bekerja di perusahaan kereta api milik negara, sekitar 22 tahun lalu, suami Fransisca Xaveria Setyowati ini juga mengalami gangguan saraf. Bedanya, pada masa itu ia menderita HNP Lumbal atau saraf pinggang terjepit.

Menurut Satmoko, penyebab saraf terjepit bermacam-macam. Bisa karena mengangkat beban terlalu berat, jatuh terduduk, atau terpuntir saat mengambil sesuatu. “Obat yang saya terima waktu itu, seperti obat saraf, penghilang rasa nyeri, dan fisio terapi berupa traksi pinggang, yakni otot pinggang saya ditarik pakai alat agar lentur,” ungkap pria kelahiran Yogyakarta, 69 tahun lalu itu.

Selang dua tahun, ketika pindah tugas ke kota kelahiran, gangguan saraf Satmoko kambuh. Hantaman sakit kali ini lebih hebat dibanding yang pertama. Ia tak sanggup berdiri. Tenaga medis memberikan berbagai terapi kepada Satmoko, mulai dari obat-obatan, penyinaran, micromassage atau pijat ultrasonic, kejut listik, hingga traksi pinggang.

Keluar dari RS, ayah dua anak ini masih menjalani 25 kali fisio terapi. Satmoko juga memakai korset pinggang saban hari. Setelah seabrek terapi yang ia lakukan, apakah Satmoko sembuh? Tidak! Sakit itu terus menghantui dirinya, ketika masih bekerja maupun sesudah ia pensiun.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*